<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006</id><updated>2011-07-31T12:02:11.232+07:00</updated><category term='culture shocks'/><title type='text'>Culture Shocks by balzach</title><subtitle type='html'>half engineer half artiste</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-6442724617963241070</id><published>2008-09-09T05:01:00.009+07:00</published><updated>2008-09-12T00:49:14.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Awas Pencurian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GX6htfXAP5E/SAoveu8ifqI/AAAAAAAAAoo/zr_NKBEaz38/s400/pencuri.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 225px; height: 218px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GX6htfXAP5E/SAoveu8ifqI/AAAAAAAAAoo/zr_NKBEaz38/s400/pencuri.JPG" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di UTP ini banyak terdapat mahasiswa asing, saya termasuk di antaranya :p, karena katanya untuk meningkatkan ranking agar bisa masuk ke jajaran World Research University. Mereka berasal dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Vietnam, Thailand, Timor Timur, Pakistan, Iran, Irak, Yaman, Mesir, Sudan, Ethiopia, Afrika Selatan, Gambia, Mali, Libia, Arab Saudi, dan Turkmenistan. Mahasiswa Indonesia dari segi jumlah termasuk dalam 3 besar, selain Pakistan dan Sudan. Hampir 90% mahasiswa asing tersebut tinggal di dalam kampus (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;in campus housing&lt;/span&gt;) yang disebut Student Village atau Desasiswa. Ada 6 desasiswa di UTP, saya tinggal di Village 5, hostel V5C. Di village yang memiliki 10 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hostel&lt;/span&gt;/apartemen ini, setiap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hostel &lt;/span&gt;memiliki 5 lantai. Masing-masing lantai terdapat 4 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house&lt;/span&gt;. Masing-masing &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house &lt;/span&gt;terdiri atas 6 bilik, 4 kamar mandi dan wc, serta dapur. Setiap bilik diisi 2 mahasiswa. Di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house&lt;/span&gt; saya terdapat 6 pelajar Indonesia (5 dari UGM) serta 5 orang dari 2 negara asing (tidak saya sebut asal negaranya karena suatu alasan yang akan anda ketahui selanjutnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal serumah dengan orang asing merupakan pengalaman yang unik. Saya juga pernah mengalami sebelumnya ketika tinggal di Kanada dengan tetangga dari Korea dan orang lokal Kanada. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Basically&lt;/span&gt;, kami tidak terlalu dekat dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;osmet&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;housemate&lt;/span&gt;, demikian orang sini menyebutnya karena suka menyingkat istilah) asing tersebut. Sekedar kenal, tanya kabar secukupnya, mengucapkan salam, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;that's all&lt;/span&gt;. Perbedaan budaya menyebabkan tidak cairnya hubungan kami tersebut, terlebih saya tidak merasa kesepian karena tinggal dengan 5 orang sebangsa dan 10 orang Indonesia lainnya di rumah sebelah. Namun, ada alasan lain yang membuat saya malas berdekat-dekatan dengan mereka. Satu osmet kami itu berasal dari negara yang penduduknya berbahasa Arab selain bahasa mereka sendiri dan bahasa Inggris. Mereka sering menjadi imam di surau dekat hostel kami. Namun 4 osmet lainnya yang berasal dari negara lain yang terkenal dengan musik dan tariannya (tidak terlalu terkenal ding, negara tetangganya yang terkenal seperti itu sebenarnya, tapi mereka menyukai musik dan tarian negara tetangga tersebut), ini yang menjadi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah pertama adalah irama hidup mereka yang berbeda dengan kebanyakan teman-teman dari Indonesia. Meskipun secara umum, di manapun yang namanya mahasiswa sebagian besar adalah binatang malam, namun yang memasak setelah lewat tengah malam baru kali ini saya temui. Parahnya, mereka juga nyetel musik dengan sepol-polnya saat itu. Ya, di tengah malam itu!!! Konon seorang teman dari UGM pernah melabrak mereka, hingga melibatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fellow &lt;/span&gt;atau ketua RT village kami. Untung tidak terjadi kontak fisik, karena risikonya di sini adalah pemecatan dari status mahasiswa. Resolusi terjadi, mereka tidak lagi nyetel musik keras-keras di tengah malam. Tapi ya itu. Setelah beberapa saat, hingar-bingar kembali muncul. Saya kadang kasihan melihat mereka kalau ngomong harus saling berteriak meski pada jarak berdekatan. Iya, kasihan mungkin memang telinga mereka sudah tidak peka lagi untuk suara yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, itu masalah pertama. Masalah kedua lebih parah lagi. Saya tidak tahu apakah ini memang sifat mereka atau budaya mereka, karena ini terjadi berulang kali meskipun pelakunya berganti-ganti. Kejadian pertama yang saya alami adalah, untuk persiapan puasa Ramadhan, saya bela-belain jauh-jauh ke kota (kota? iyaaa, saya di hutan niii :p ) untuk membeli kompor listrik sehingga dapat digunakan untuk memasak sekadarnya kalau lagi malas keluar untuk membeli makan buat buka atau sahur di kantin. Suatu sore, kompor tersebut tidak ada di dapur, padahal baru saya pakai sekali. Tadinya saya menduga kompor itu disita oleh mak cik pembersih hostel karena sebelumnya beredar isu akan ada penyitaan barang2 elektronik tidak terdaftar di hostel sebab sebetulnya tidak boleh memasak sendiri di dalam hostel (tapi aneh, kalau begitu kenapa disediakan dapur? he..he.. memang sih kalau di village lain hanya tersedia ruang pantry yang kecil untuk setiap house. BTW, kalau tidak boleh memasak ya sediakan menu-menu makanan yang lezat di kantin dong, mosok masakannya cuman kayak gitu-gitu aja, ha..ha..ha..). Malam itu kebetulan saya bertemu dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fellow&lt;/span&gt; hostel kami dalam suatu acara klub robot, jadi saya laporkanlah kehilangan kompor saya itu. Dia malah bilang: seharusnya pintu rumahmu dikunci, kan masing-masing kunci kamar bisa digunakan untuk mengunci pintu rumah. Wah, iya po? Tapi ternyata tidak bisa ketika saya coba. Kemudian lewat tengah malam, saya masih di acara tersebut, ditelpon teman saya yang mengatakan bahwa tetangga kami barusan mengembalikan kompor saya dengan alasan: tidak tahu bahwa itu kompor saya, mereka mengira kompor itu milik teman mereka. Haaaaa? Aneh banget alasannya. BTW, gpp sih, yang penting kompor saya kembali, meski sudah jadi lebih kotor karena tahu sendiri masakan mereka bentuknya seperti apa. Oh ya, kompor ini model yang langsung ada wajan/pancinya di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kejadian pertama. Belakangan saya sering kehilangan barang: es krim 3 warna di freezer yang barusan saya beli di pasar malam tiba-tiba hilang 1 warna, sendal saya sering berpindah tempat dari depan bilik saya ke depan bilik tetangga tersebut, apel, pepaya, sampo, pisau dapur, sendok, dsb. Paling mangkel ketika sabun cuci hilang, dan ketika saya membuka-buka lemari dapur tempat mereka menyimpan bahan, di situlah terdapat sabun cuci saya yang sengaja sudah saya beri tanda. Saya sebetulnya tidak terlalu keberatan kalau mereka minta sabun tersebut, ingat minta izin dulu lho. Tapi yang ini, sudah tidak minta izin, malahan menyimpannya sehingga yang punya tidak bisa menggunakannya. Kebangeten deh. Seorang teman yang saya curhati masalah ini mengatakan: jangan menuduh dulu kalau tidak ada bukti, maksudnya belum tentu mereka yang melakukannya. Lha itu kan buktinya sudah ada. Ketahuan yang kedua suatu kali saya mau mandi dan sabun mandi cair saya lenyap dari tempatnya di kamar mandi, biasanya sih tetap di situ tapi dengan isi yang berkurang. Karena saat itu 1 kamar mandi masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;occupied&lt;/span&gt;, dari handuknya sih kelihatannya si tetangga itu yang sedang mandi. Jadi saya tunggu saja di situ. Ketika dia selesai mandi, membuka pintu, terlihatlah sabun mandi saya (sudah saya beri nama di wadahnya) habis dipakainya. Maka jelas-jelas terbukti. Sayangnya saya bukan model orang yang suka rame-rame, jadi saya biarkan saja, tapi saya sudah yakin sekarang bahwa saya tidak sembarang menuduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang sih saya tidak sabar pula sehingga saya berteriak: "Maliiing. Awas ada maling" di dalam rumah ke arah bilik mereka ketika ada barang saya yang hilang lagi. Teman-teman Indonesia yang mendengarnya tertawa kecut. He..he..he.. Kata salah satu teman saya: "Salah kamu sendiri. Sudah tahu punya tetangga yang suka ngambil milik orang lain kok menaruh barang di luar." Lho, kok saya yang disalahkan. Aneh bin ajaib deh. Memang sekarang saya menyimpan barang di dalam bilik, tetapi selalu ada saja yang tertinggal di luar dan terambil lagi oleh mereka. Nasib... nasib... Meskipun penghuni kamar tetangga itu sudah ganti-ganti, tetapi gantinya selalu dari negara mereka, dan kejadian tersebut berulang kembali. Bukannya mau menyatakan suatu stereotipe, tapi barangkali memang mereka itu punya "rasa memiliki" yang tinggi. Ha..ha..ha...&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;-Malaysia, 2008-&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-6442724617963241070?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/6442724617963241070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=6442724617963241070' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/6442724617963241070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/6442724617963241070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2008/09/awas-pencurian.html' title='Awas Pencurian'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GX6htfXAP5E/SAoveu8ifqI/AAAAAAAAAoo/zr_NKBEaz38/s72-c/pencuri.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-4483798400428272569</id><published>2007-03-05T08:19:00.000+07:00</published><updated>2007-04-11T14:30:47.030+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Pengumuman</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/RhyLrUCXyZI/AAAAAAAAADA/cR39gXmTOkg/s1600-h/kerjakerja.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5052066458232146322" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/RhyLrUCXyZI/AAAAAAAAADA/cR39gXmTOkg/s400/kerjakerja.jpg" width="250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret5Vbf04KI/AAAAAAAAAB8/IZT5CQS9hMk/s1600-h/060717_132703.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038254017209491618" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret5Vbf04KI/AAAAAAAAAB8/IZT5CQS9hMk/s400/060717_132703.jpg" width="250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret6F7f04LI/AAAAAAAAACE/0_eQWuK0Tsc/s1600-h/060722_134324.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038254850433147058" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret6F7f04LI/AAAAAAAAACE/0_eQWuK0Tsc/s400/060722_134324.jpg" width="250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret6srf04MI/AAAAAAAAACM/nOOnx5ZGzN4/s1600-h/060717_140758.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038255516153077954" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret6srf04MI/AAAAAAAAACM/nOOnx5ZGzN4/s400/060717_140758.jpg" width="250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret71rf04NI/AAAAAAAAACU/4LRVnRYPL4I/s1600-h/060727_192131.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038255516153077954" style="CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret71rf04NI/AAAAAAAAACU/4LRVnRYPL4I/s400/060727_192131.jpg" width="250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/RhyNjUCXyaI/AAAAAAAAADI/DPro346xYvQ/s1600-h/pelan.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5052068519816448418" style="CURSOR: hand" height="250" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/RhyNjUCXyaI/AAAAAAAAADI/DPro346xYvQ/s400/pelan.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret8f7f04OI/AAAAAAAAACc/SjjCtIjZXl0/s1600-h/070215_120014.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038257496133001442" style="CURSOR: hand" height="250" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Ret8f7f04OI/AAAAAAAAACc/SjjCtIjZXl0/s400/070215_120014.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Reu92bf04PI/AAAAAAAAACk/fu33OKgFV7A/s1600-h/060805_192241.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038329350935863538" style="CURSOR: hand" height="250" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/Reu92bf04PI/AAAAAAAAACk/fu33OKgFV7A/s400/060805_192241.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/RevAjLf04QI/AAAAAAAAACs/oDQutsrAuWA/s1600-h/060909_103715.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5038332318758265090" style="CURSOR: hand" height="250" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/RevAjLf04QI/AAAAAAAAACs/oDQutsrAuWA/s400/060909_103715.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0)"&gt;{2006/2007 @ malaysia}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-4483798400428272569?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/4483798400428272569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=4483798400428272569' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/4483798400428272569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/4483798400428272569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2007/03/pengumuman.html' title='Pengumuman'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OdVNAZV52AI/RhyLrUCXyZI/AAAAAAAAADA/cR39gXmTOkg/s72-c/kerjakerja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-8741864184158959389</id><published>2007-02-19T04:14:00.000+07:00</published><updated>2007-05-27T14:27:08.120+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Lion Dance</title><content type='html'>&lt;a href="http://static.flickr.com/13/14919050_987cddaf6a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://static.flickr.com/13/14919050_987cddaf6a.jpg" border="0" height="216" width="257" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;em&gt;Long weekend&lt;/em&gt; kali ini, bertepatan dengan cuti (liburan) tahun baru cina, saya gunakan untuk pergi berkunjung ke rumah adik yang ada di Singapura. Tak ada yang terlalu menarik dalam perjalanan 12 jam dari Perak ke Singapura, kecuali ketika bersama 2 turis dari Swedia diburu-buru oleh pemandu bas untuk segera lari ke kantor imigrasi di kedua ujung Johor Causeway, jembatan yang menghubungkan semenanjung Malaysia dengan Singapura sejak tahun 1920. Dari terminal bas Lavender saya naik kereta listrik SMRT (Singapore Mass Rapid Transit) ke kota Sembawang. Singapura memang terbagi atas kota-kota (&lt;em&gt;town&lt;/em&gt;) yang masing-masing diwakili oleh anggota parlemen (MP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bertepatan dengan tahun baru cina, kepergian ke sini tidak saya khususkan untuk merayakannya. Meskipun begitu pada malam itu, dari lantai 14 apartemen adik saya, di kejauhan terlihat &lt;em&gt;firework&lt;/em&gt; yang diluncurkan dari Johor Bahru di Malaysia. Kembang api memang merupakan salah satu elemen yang selalu digunakan untuk merayakan tahun baru cina, selain barongsai atau &lt;em&gt;lion dance&lt;/em&gt;. Menurut legenda tiongkok kuno, ada seekor monster yang berleher panjang dan bertanduk tajam yang tinggal di kedalaman laut. Pada setiap tahun baru cina, Nian, nama monster tersebut, muncul ke daratan untuk makan ternak milik penduduk desa, merusak desa, serta menculik anak-anak. Penduduk desa bersembunyi di gunung untuk menghindari Nian. Suatu saat, seorang tua berambut putih datang ke desa dan menolak untuk bersembunyi di gunung. Ketika Nian muncul, tiba-tiba monster tersebut dihadapkan pada kembang api yang berluncuran serta lampion yang menyala-nyala, diiringi dengan suara riuh dan bendera merah yang berkelebatan, hingga dia ketakutan dan pergi. Itulah sebabnya, pada setiap perayaan tahun baru cina selalu ada bendera merah, lampion, serta kembang api, dan barongsai atau singa yang menyimbulkan Nian. Juga jangan lupa: suara riuh rendah atau &lt;em&gt;mbrebegi&lt;/em&gt; &lt;img src="http://us.i1.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/1.gif" /&gt; untuk mengusirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan &lt;em&gt;mbrebegi&lt;/em&gt; atau suara bising yang menulikan telinga ini menarik juga. Pagi hari selepas tahun berganti, suara bising drum serta tamborin dengan irama yang berulang-ulang terdengar di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;building&lt;/span&gt; apartemen sebelah. Ada suaranya tapi tak ada terlihat bentuknya, begitulah kiranya. Dalam satu sesi bising berlangsung sekitar 20 menit. Saat itu, dalam sehari kurang lebih terdengar belasan kali dari berpindah dari satu lantai ke lantai lain, dari satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;building&lt;/span&gt; ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;building&lt;/span&gt; lain. Suatu kali terlihat oleh kami, ternyata itu adalah suara sekelompok pemuda yang memainkan Lion Dance. 2 barongsai dimainkan oleh 4 orang pemain terlihat menari-nari di dalam ruang apartemen, diiringi beberapa pemain musik dengan seragam kaos dan celana warna merah yang memukul-mukul drum besar serta tamborin dan gong kecil di koridor dengan irama naik-turun, cepat lambat, keras-lembut berulang-ulang mengikuti irama gerakan tarian si singa (atau sebaliknya ya, tarian singa itu yang mengikuti irama musik bising tadi). Bising? Ya. Beberapa tetangga lain lantai terlihat keluar dari apartemen dengan muka bersungut-sungut dan bingung mencari sumber suara itu. Rupanya sekelompok pemuda tadi sedang mengamen dari 1 apartemen ke apartemen lain, karena selepas memainkan 1 sesi tarian singa tersebut, si tuan rumah terlihat memberikan angpao kepada salah satu pemuda itu. Anda berminat untuk memanggilnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi yang menarik di Singapura? Kota yang bersih, tertib, dan aman. Demikian pendapat hampir semua teman yang pernah berkunjung ke sana. Semua itu karena peraturan benar-benar ditegakkan di sana. Di setiap penjuru kota terdapat papan larangan untuk membuang sampah, meludah, makan, minum, merokok, buang air, dan sebagainya; tentunya di sertai dengan ancaman denda yang cukup tinggi apabila kita melanggarnya. Itulah sebabnya Singapura secara plesetan disebut sebagai Fine City (kota denda) :-p. Terus siapa yang menegakkan peraturan tersebut? Polisi tentu saja. Tapi selama di sana saya tidak pernah melihat seorang polisipun di tempat-tempat umum. Namun di seluruh penjuru kota terpasang kamera banyak sekali. ... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;to be continued&lt;/span&gt; ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{2007 @ singapore}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-8741864184158959389?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/8741864184158959389/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=8741864184158959389' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/8741864184158959389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/8741864184158959389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2007/02/lion-dance.html' title='Lion Dance'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-5230651352872512475</id><published>2007-02-17T03:16:00.000+07:00</published><updated>2007-02-21T06:22:12.303+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Ramayana</title><content type='html'>Saya, dan juga banyak orang lain yang bepergian ke luar negeri, dalam hal yang berkaitan dengan budaya, memiliki 2 keinginan. Pertama, ingin mengenal kebudayaan masyarakat di tempat yang saya kunjungi. Mengenal seluk beluk keunikan tradisi dan adat istiadat, terutama yang menimbulkan kejutan budaya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;culture shock&lt;/span&gt;) yang menarik bagi saya, karena berbeda dengan pengalaman sehari-hari yang biasa saya alami di tempat asal. Kedua, ingin mengenalkan budaya dan adat istiadat kita sendiri pada masyarakat di tempat yang kita kunjungi. Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman yang berhubungan dengan keinginan kedua di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.indonesianshadowplay.com/6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 20px 10px 0px; float: left; width: 163px; height: 204px;" alt="" src="http://www.indonesianshadowplay.com/6.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ruang tamu apartemen kami dihiasi dengan benda-benda yang mengIndonesia. Ada bendera merah putih besar yang terpasang di dinding, keris dan senjata tradisional lain, lukisan batik, miniatur perahu pinisi, model candi borobudur, dan lain-lain (seingat saya ada juga Garuda Pancasila di sana). Terpajang pula beberapa wayang golek dan wayang kulit, di antaranya adalah Srikandi, Rahwana, dan Prabu Kresna. Benda-benda yang asli dibawa dari Indonesia tersebut sering kami bawa keluar untuk dipamerkan di beberapa acara yang diadakan oleh International Student Association. Biasanya kami juga menyetel musik-musik tradisional Indonesia di acara tersebut, misalnya degung Sunda dan gamelan Jawa atau Bali. Apabila masih kurang, biasanya kami mengontak kedutaan besar di Ottawa untuk mengirim benda-benda tradisional untuk keperluan pameran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali, kami diundang untuk mengisi acara pada &lt;em&gt;Open House&lt;/em&gt; yang diadakan oleh &lt;a href="http://www.scienceeast.nb.ca/pages.asp?lid=1&amp;did=0&amp;amp;pid=17"&gt;Science East Association&lt;/a&gt; di Science Center (yang tadinya adalah penjara York County Jail yang didirikan pada tahun 1842). Pada saat itu, acara yang diadakan untuk pertama kali setelah Science Center dibuka pada Agustus 1999 itu bertepatan dengan pergantian milenium yaitu pada malam tahun baru 2000 (banyak yang mengatakan bahwa pergantian milenium sebenarnya baru terjadi pada tahun berikutnya, yaitu tahun baru 2001, karena tahun masehi dimulai dari tahun 1, bukan tahun 0. &lt;em&gt;By the way&lt;/em&gt;, kedua-duanya mungkin tidak benar, mengingat kalender masehi pernah melompat dari Julian Calendar pada hari Kamis tanggal 4 Oktober 1582 menjadi hari Jumat tanggal 15 Oktober 1582 dari Gregorian Calendar pada hari berikutnya). Setelah berunding, kami memilih untuk mementaskan pertunjukan wayang kulit dengan mengambil cerita Ramayana. Segera kami berbagi tugas, ada yang menyiapkan cerita dalam bahasa inggris, ada yang menyiapkan wayang yang akan digunakan serta peralatan lain yang mendukung. Masih ada beberapa hari buat kami untuk menulis dan menghapal transkripsi skenario yang kami adaptasi dari berbagai sumber melalui intenet. Pembagian lakon: semua orang menjadi dalang (&lt;em&gt;pupetteer&lt;/em&gt;), narator yang membawakan cerita dilengkapi dengan kepyak tatakan tutup gelas, ada yang menjalankan Seri Rama, Shinta, Rahwana, dan Anoman serta Jatayu. Karena keterbatasan perangkat serta waktu (panitia hanya memberikan waktu 30 menit saja sejak persiapan sampai selesai), maka versi kisah Ramayana yang kami bawakan merupakan versi sangat singkat. Sayang file transkripsi skenario cerita tersebut tidak dapat saya temukan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tiba di Science Center sebelum jatah kami "main". Kami melihat-lihat dahulu berbagai stan yang ada di sana. Pada hari-hari biasa, Science Center digunakan untuk tempat berkunjung para siswa sekolah untuk melakukan berbagai eksperimen dan demonstrasi iptek. Mirip Pusat Peragaan Iptek yang ada di TMII lah. Namun pada tahun baru kali ini, terdapat beberapa panggung pertunjukan yang diisi oleh berbagai negara. Kami lihat pula ada permainan boneka tali dari Eropa. Melihat kepiawaian para &lt;em&gt;puppeteer&lt;/em&gt;nya memainkan boneka tali menggunakan tangan mereka, kami agak keder juga. Tentu saja kami tidak se&lt;em&gt;lanyah&lt;/em&gt; mereka dalam memainkan wayang, apalagi kami hanya sempat berlatih beberapa hari saja di sela-sela kuliah dan riset yang tetap harus kami laksanakan. Pada saat itu pengunjung belum banyak yang datang. Karena jatah waktu kami telah hampir tiba, kami pun menuju panggung yang disediakan untuk pertunjukkan wayang kulit dan menyiapkan semua peralatan. Panggung berupa kain besar yang menutupi sebuah meja besar, tempat kami bersembunyi agar tidak terlihat oleh penonton. Di kursi penonton terlihat hanya ada beberapa orang dengan anak-anaknya. Karena kebiasaan jam karet tidak berlaku di sana, maka pada saat yang tepat (&lt;em&gt;sharp&lt;/em&gt;) kami memulai pertunjukkan. Lampu ruangan dipadamkan, hanya lampu panggung yang menyala. Dimulai dengan musik gamelan dan narasi yang menceritakan montase di panggung saat itu, muncul Seri Rama (lucunya wayang yang kami gunakan adalah Prabu Kresna, karena kami tidak memiliki wayang Seri Rama :-) dan Shinta (lagi-lagi, yang dimunculkan adalah Srikandi; kan jauh amat penampakannya :-). Tetapi tak mengapa, toh tidak ada yang mengetahuinya, he.he..he... Pertunjukkan berjalan dengan mulus, tanpa gangguan suatu apapun. Tidak ada penonton yang bersuara sedikitpun, hanya musik gamelan, kepyak yang dimainkan pada saat terjadi pertarungan sengit antara Rahwana dengan Anoman dan Seri Rama, serta suara para dalang. Cerita berakhir dan lampu ruangan menyala. Tiba-tiba kami mendengar tepuk tangan riuh rendah ramai sekali. Kami pun memunculkan kepala dari balik meja dan terkejut: ternyata ruangan penuh dengan penonton, tidak ada satupun kursi yang tersisa, bahkan banyak penonton yang berdiri karena tidak kebagian kursi. Melihat kami muncul, penonton pada berdiri sambil terus bertepuktangan. Kami pun tersenyum menanggapi &lt;em&gt;applause&lt;/em&gt; mereka. Beberapa orang mendatangi kami untuk berfoto dengan para dalang dan wayangnya serta menanyakan berbagai hal berkenaan dengan pewayangan. Lumayan jadi selebritis temporer, he..he..he.. Kami pun melayaninya dan kemudian me&lt;em&gt;ngukuti&lt;/em&gt; peralatan kami dan bersiap-siap menuju tepi sungai Saint John River untuk melihat parade kapal dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;firework&lt;/span&gt; dalam rangka merayakan tahun baru bersama seluruh penduduk kota Fredericton tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{new year 2000 @ fredericton}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-5230651352872512475?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/5230651352872512475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=5230651352872512475' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5230651352872512475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5230651352872512475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2007/02/ramayana.html' title='Ramayana'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-5833138867819736603</id><published>2007-02-10T02:17:00.000+07:00</published><updated>2007-02-18T17:27:30.030+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Garage Sale</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.davidahernandez.com/images/sale.gif"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 248px; HEIGHT: 190px" alt="" src="http://www.davidahernandez.com/images/sale.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setiap musim panas (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;summer&lt;/span&gt;), kami punya acara rutin: berjalan-jalan ke seluruh penjuru Fredericton, berburu barang-barang murah. Ada pesta diskon kah? Tidak, sebab biasanya di musim panas, banyak keluarga yang mengadakan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;garage sale&lt;/span&gt;, atau sering disebut juga sebagai &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;yard sale&lt;/span&gt;, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;carport sale&lt;/span&gt;, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;patio sale&lt;/span&gt;, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;porch sale&lt;/span&gt;, atau Garage-a-Rama. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Garage sale&lt;/span&gt; adalah jualan yang dilakukan oleh satu keluarga atau beberapa keluarga yang bertetangga, yang dilaksanakan - sesuai dengan namanya - di garasi, halaman, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;carport&lt;/span&gt;, emper rumah, serambi, atau lokasi lain di luar rumah mereka. Ini adalah kesempatan bagi keluarga tersebut untuk 'membuang' barang-barang tua, barang yang tidak digunakan lagi, barang yang jumlahnya lebih dari satu, atau barang-barang lain. Alih-alih membuangnya, mereka menjualnya kepada orang lain, karena ini adalah kesempatan bagi kita untuk memperoleh barang-barang murah, barang yang tidak dijual lagi di toko, barang-barang untuk hobi (memancing, menembak, berkebun), barang-barang kuno, barang dapat-koleksi (&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;collectible&lt;/span&gt;, misalnya perangko, botol), memorabilia (kaset beatles, kartu NBA), mainan (boneka barbie, dinosaurus), dll. Bahkan laptop pun dijual di situ (lihat gambar). Percayalah: &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;one's trash is other people's treasure, sometime&lt;/span&gt; :-P. Selalu saja ada yang membeli barang-barang yang tidak kita perlukan lagi. Daripada disimpan saja, menuh-menuhin gudang, lebih baik dijual ke orang yang mau memeliharanya atau menggunakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;garage sale&lt;/span&gt; dilaksanakan pada hari Jumat sore atau Sabtu; hari Minggu kayaknya agak jarang. Oleh karena itu, setiap Kamis biasanya kami pasang mata, melihat pengumuman yang ditempel di tiang listrik, di pohon, atau di papan pengumuman; terkadang ada juga iklan di koran lokal yang memuat informasi tentang adanya &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;garage sale&lt;/span&gt; di akhir minggu itu. Jika ada info &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;garage sale&lt;/span&gt;, maka langsung berita itu disebarkan ke seantero teman-teman, sambil janjian untuk pergi bersama-sama saat &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;weekend&lt;/span&gt; nanti. Pada musim panas, hampir setiap minggu ada saja yang mengadakan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;yard sale&lt;/span&gt;, bahkan lebih dari satu tempat. Jika informasinya jelas, maka kami merencanakan dahulu route yang akan ditempuh untuk memperoleh jarak tempuh yang paling optimal. Seperti menerapkan pencarian route untuk &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;travelling salesman problem&lt;/span&gt; lah. Namun sering juga kami temui &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;yard sale&lt;/span&gt; dadakan atau yang dilakukan tanpa pengumuman. Kadang saya meminjam sepeda teman untuk berkeliling melihat secara sekilas lokasi-lokasi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;yard sale&lt;/span&gt; sebelum kami mengunjunginya dengan berjalan kaki. Karena tujuan utamanya adalah berjalan-jalan, bukan semata-mata mencari sesuatu yang diperlukan - wah kayak tidak ada hiburan lain aja ya - maka seringkali seusai berkeliling &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;hunting garage sale&lt;/span&gt; dan menempuh jarak bermil-mil (he..he..he..) beberapa dari kami pulang dengan tangan kosong. Namun tidak jarang kami membawa pulang banyak sekali barang kalau pas ada yang cocok. Saya pernah membeli buku teks untuk kuliah mikroprosesor, masih lumayan baru, saya peroleh dengan harga hanya 2 CAD (masih lebih murah dari harga sebiji burger McDonald); sampai tahun lalu masih saya gunakannya untuk mengajar di UGM. Di kali lain saya pernah memborong setumpuk buku ensiklopedi bergambar untuk anak-anak. Ada sekitar 20 seri, totalnya saya beli dengan harga cuman 0.99 CAD !!! Bayangkan, ketika saya tumpuk, tingginya mencapai lebih dari setengah meter. Wah, ini sih si penjual cuman ingin &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;get a rid of&lt;/span&gt; buku tersebut. Tadinya rencana saya mau saya bawa ke Jogja saat pulang nanti. Namun, ketika ditimbang-timbang, buku-buku tersebut sangat tebal dan berat, sehingga ongkos untuk membawanya bisa jauh lebih mahal daripada harga belinya. Akhirnya buku tersebut saya sumbangkan ke ruang baca di &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;playing room&lt;/span&gt; untuk anak-anak di lantai dasar Magee House. Lumayan juga, jadi ada gunanya capek-capek menggotongi setumpuk buku tersebut dari lokasi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;garage sale&lt;/span&gt; ke apartemen kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membeli barang di &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;garage sale&lt;/span&gt; bukanlah satu-satunya jalan untuk memperoleh barang murah. Cara lain telah saya sampaikan pada cerita terdahulu, yaitu saat ada pembagian pakaian gratis dalam program &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Host Family&lt;/span&gt; setiap menjelang musim dingin. Namun sering juga kita bisa memperoleh barang murah pada saat ada teman yang telah menyelesaikan kuliah di sini dan hendak pulang ke Indonesia. Barang-barang yang dimilikinya diobral ke teman-teman dengan harga yang sangat miring, karena memang tidak mungkin untuk membawanya ke Indonesia. Apabila barang tersebut dibelinya dari teman sebelumnya yang hendak pulang juga, maka harga barang tersebut makin lama akan makin turun hingga sudah mencapai posisi di mana barang tersebut akhirnya tidak memilik harga (bukan tidak berharga lho) sama sekali, dan akhirnya diberikan secara cuma-cuma. Nah khusus untuk barang yang diperoleh secara cuma-cuma, etikanya adalah ketika kita hendak pulang dan tidak berniat membawanya ke Indonesia, maka barang tersebut harus dihibahkan ke teman lain tanpa memungut bayaran. Jadi kita tidak boleh menjual barang warisan turun-temurun dari para pendahulu kita. Begitu ceritanya :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0)"&gt;{summer @ fredericton}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-5833138867819736603?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/5833138867819736603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=5833138867819736603' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5833138867819736603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5833138867819736603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2007/02/garage-sale.html' title='Garage Sale'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-3126064758669784805</id><published>2007-01-30T00:32:00.000+07:00</published><updated>2007-02-07T08:16:25.033+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Salju Membeku</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.tetongravity.com/usergalleries/albums/userpics/Snow%20Angel.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 20px 10px 0px; float: left; width: 210px; height: 157px;" alt="" src="http://www.tetongravity.com/usergalleries/albums/userpics/Snow%20Angel.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bulan Oktober, udara di New Brunswick mulai dingin. Temperatur udara perlahan turun di musim gugur, seiring dengan berjatuhannya daun-daun pinus dan maple. Karena turunnya perlahan-lahan, saya tidak merasakan dingin pada suhu sekitar 10°C. Kami bahkan masih bisa memakai pakaian biasa atau tipis. Namun ketika suhu udara terus menurun mendekati 0°C di musim dingin, kami harus menggunakan baju yang berlapis-lapis. Mulai pakaian dalam, kemudian kaos lengan panjang dan celana panjang yang ketat di tubuh, baru pakaian luar. Itu pun masih ditambah lagi dengan jaket tebal berbulu, lengkap dengan kaus tangan dan topi woll. Kadang-kadang saya masih menggunakan syal juga. Pokoknya tubuh saya jadi kelihatan gemuk deh. Oh ya, topi yang dikenakan saya pilih yang ada siripnya untuk menutupi telinga. Di musim dingin, telinga adalah bagian tubuh yang paling mudah menjadi dingin. Bila, kita lupa menutupnya, ada kemungkinan daun telinga menjadi beku dan bisa patah jika tersenggol, ngeri ya. Tapi dinginnya udara menjadi terasa hangat di hati tatkala salju mulai turun. Terasa ada romantika tersendiri melihat salju melayang jatuh, dan memegang kelembutannya mencair di tangan. Bukan hanya saya yang baru pertama kali melihat salju. Anak-anak yang lahir dan dibesarkan di sanapun, sangat gembira dengan kedatangan salju yang putih. Sesudah salju telah sering turun, lapangan rumput di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;football court &lt;/span&gt;yang tadinya hijau berubah menjadi hamparan padang salju yang putih dan tebal. Setiap habis turun salju, banyak orang bermain di sana, tua maupun muda. Kita berluncuran menggunakan papan luncur turun dari lereng miring yang sekarang penuh dengan salju. Ketika sampai di bawah, berjungkir balik tertimbun tumpukan salju. Mereka saling berlemparan bola-bola salju yang ternyata terasa pedih ketika kena wajah. Beberapa anak menjatuhkan diri terlentang di atas salju dengan tangan membentang lebar ke samping, kemudian menggerak-gerakkan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Bekas yang terjadi membentuk gambaran malaikat salju (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;snow angel&lt;/span&gt;) yang sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain dengan salju selalu menyenangkan; bagaimana dengan mandi salju? Teringat saat kecil kami suka berlarian di halaman saat hujan turun dengan derasnya. Anak kecil selalu suka bermandi hujan meski kadang mereka harus menghadapi risiko memperoleh omelan dari orang tuanya. Mandi salju juga terasa menyenangkan, saya sering keluar di waktu hujan salju sekedar berjalan-jalan di bawah jatuhan salju yang lembut dan hangat. Hangat? Ya, salju terasa hangat ketika menempel di tubuhku yang berbalutkan pakaian yang tebal. Nggak dingin? Yang dingin itu apabila suhu udara menurun tajam, angin bertiup kencang, dan menciptakan hujan es berbentuk batu. Dingin dan keras, pedih ketika menerpa wajah. Es batu bahkan sempat berukuran sebesar anak kucing, sehingga banyak atap rumah yang bocor tertimpa olehnya. Bayangkan apabila es tersebut menimpa kepala kita. Maka, ketika hujan salju ringan telah berubah menjadi badai salju (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;snow storm&lt;/span&gt;) dan es yang ganas, saya memilih untuk berdiam diri di dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;channel&lt;/span&gt; di stasiun televisi Fundy Cable sepanjang hari menyiarkan ramalan cuaca, sehingga kota dapat mengetahui prakiraan cuaca hari itu, apakah akan terjadi badai salju atau tidak. Melihat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;weather channel&lt;/span&gt; ini &lt;span style="font-style: italic;"&gt;is a must&lt;/span&gt; bagi kami setiap kali akan pergi ke luar apartemen selama musim dingin. Jika prakiraan cuaca menyatakan hari ini akan turun salju, maka riang gembiralah hati kami. Namun apabila kami mendengar berita akan datangnya badai salju, maka mungkin kami tetap akan bergembira :-P. Lho?? Soalnya, apabila badai salju yang terjadi sangat berat, maka sekolah-sekolah akan diliburkan, termasuk UNB. Pengumuman biasanya disampaikan melalui televisi atau radio lokal, sehingga kita tidak perlu berangkat ke kampus. Namun suatu kali, pernah pengumuman tentang ditutupnya kampus karena ada badai salju disampaikan oleh UNB President (rektor) ketika kami tengah berada di kelas mengikuti kuliah. Maka, dosennya segera membatalkan kuliah saat itu juga, meskipun kemudian kami hanya kongkow-kongkow di lobi Head Hall karena cuaca tidak memungkinkan bagi kami untuk pulang ke Magee House. Uniknya, rektor tidak pernah mengumumkan universitas tutup akibat badai salju sebanyak lebih dari 2 kali dalam setahun. Jadi, apabila sekolah telah diliburkan 2 kali, meski badai salju sangat hebat, rektor tidak menyatakan universitas ditutup. Jadi, bagi mereka yang telah terlanjur berada di kampus, kuliah tetap diadakan; namun bagi yang masih di rumah, mereka akan dimaklumi apabila tidak berangkat ke kampus :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkendaraan di jalan dalam cuaca buruk akibat badai salju memang berbahaya. Apabila salju yang menutupi seluruh ruas jalan telah membeku menjadi es, maka akan sering terjadi kecelakaan akibat pengendara tidak dapat mengemudikan mobilnya dengan baik. Di depan Head Hall saja, saat itu kami menemui beberapa mobil bertubrukan secara berurutan akibat tergelincir lapisan es dan salju yang tebal. Untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terpeleset di atas salju, pada musim dingin, ban mobil dilapisi dengan rantai besi di sekelilingnya. Sedangkan untuk mengurangi lapisan es di jalan-jalan, pemerintah daerah mengirimkan truk yang membawa garam untuk ditebarkan di sepanjang jalan utama di Fredericton. Tapi tetap saja, apabila sedang turun salju yang lebat atau banyak lapisan es di jalan, saran saya, jangan mengendarai mobil jika tidak ada keperluan yang sangat penting. Terus, bagaimana jika berjalan kaki saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan di atas salju yang tebal, bagi saya sih sangat menyenangkan. Menggunakan sepatu boot yang bagian bawahnya bertekstur tajam sehingga dapat mencengkeram pijakan dengan kuat. Walaupun begitu, pasanglah mata jika berjalan di atas salju. Siapa tahu di bawahnya terdapat lapisan es akibat salju yang mengeras atau air yang membeku, misalnya kolam, sungai atau genangan air. Seorang teman mengajarkan kami untuk berhati-hati melangkah supaya tidak jatuh, namun ketika mencontohkan cara berjalan yang benar, dia sendiri terpelanting jatuh akibat terpeleset lapisan es :-P. Berjalan kaki di tengah badai salju juga berbahaya. Saya pernah mengalaminya sekali, saat pulang dari belanja di Regent Mall. Lokasi mall tersebut tidak jauh dari Magee House tempat kami tinggal. Biasanya kami menembus hutan di belakang apartemen yang merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shortcut&lt;/span&gt; menuju mall. Pada saat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;winter&lt;/span&gt;, berjalan di dalam hutan juga berbahaya karena licin dan gelap. Sabtu itu, selesai berbelanja keperluan mingguan, saya berjalan kaki sendirian membawa 2 tas &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kresek&lt;/span&gt; berisi belanjaan. Saat itu, pedestrian dipenuhi dengan gundukan salju yang disingkirkan dari jalan hingga membentuk tembok salju yang tinggi. Di tengah jalan, terjadi badai salju, dilaporkan oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;weather channel&lt;/span&gt;, suhu di luar saat itu mencapai -40°C. Saya masih bertahan untuk tetap berjalan menuju apartemen, meskipun jalan menjadi tertatih-tatih. Untuk menempuh jarak 5 meter saya dapat memerlukan waktu sampai 20 detik karena hempasan angin yang sangat kencang sambil membawa butiran-butiran es yang menerpa wajah. Setelah sekian menit berjalan, tubuh saya terasa sangat kaku dan dingin, saya segera mencari tempat berlindung terdekat. Akhirnya saya masuk ke sebuah toko obat untuk mencari kehangatan di dalamnya. Di dalam toko, saya segera memeriksa telinga saya, sangat dingin dan tidak berasa ketika disentuh. Wah gawat kalau telinga saya sampai kena &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frostbite&lt;/span&gt;, bagaimana cara memasang kacamata nanti kalau saya kehilangan daun telinga :-P. Alhamdulillah, sebentar kemudian, karena hangatnya udara di dalam toko, telinga saya berangsur-angsur pulih. Saya pun kapok untuk berjalan di bawah badai salju, dan menunggunya sampai reda. Di apartemen, selepas itu, teman saya memarahi saya akibat keberanian saya tadi. Ah, itu sih namanya bukan berani, tetapi nekad :-P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.crabbemountain.com/images/2004-2005/Fall%202004%20Photo%20Gallery/Snow%20School%20Instructors%20-%2001-03-04.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 216px; height: 161px;" alt="" src="http://www.crabbemountain.com/images/2004-2005/Fall%202004%20Photo%20Gallery/Snow%20School%20Instructors%20-%2001-03-04.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu kali, Undergraduate Student Association mengadakan acara bermain ski di Crabbe Mountain. Saya segera mendaftarkan diri dengan teman untuk ikut. Biaya yang dikenakan adalah sebesar 20 CAD, untuk transportasi, tiket lift, dan ongkos sewa peralatan ski, lumayan murah juga, mungkin karena datangnya berombongan satu bus penuh. &lt;a href="http://www.crabbemountain.com/"&gt;Crabbe Mountain&lt;/a&gt; berlokasi di 46°07'09" lintang utara, dan 67°06'04" bujur barat, sekitar 40 menit berkendara dari Fredericton ke arah barat. Setiba di sana kami langsung menuju tempat peminjaman peralatan ski. Mula-mula memilih sepatu, ternyata saya cocoknya di rak sepatu ukuran anak remaja :-P. Selepas itu memilih bilah sepatu ski dan tongkat untuk mengayuh. Kemudian bilah ski akan dipasang di sepatu oleh petugas. Sambil memasangnya, si petugas itu bertanya: "berapa berat badanmu". Saya pikir dia hendak mengejek saya yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;underweight&lt;/span&gt; ini, karena orang-orang di situ kebanyakan berukuran jumbo alias besar-besar. Jadi saya menjawab dengan menyampaikan berat badan saya ditambah 10 kg, meski itupun terbilang masih di bawah rata-rata di sini. Petugas itu mengatur-atur kelengkungan bilah ski, dan kemudian menyerahkannya kembali kepada saya. Saya segera memakainya dan berjalan keluar berjingkat-jingkat menuju padang salju untuk pemain ski pemula. Berpegangan pada tali besar yang bergerak ke atas padang, ini yang dinamakan lift, wah payah deh. Sampai di atas, saya mulai mencari-cari posisi untuk meluncur ke bawah. Saya mencoba di bagian yang paling landai dulu. Meluncur sebentar kemudian terguling-guling, berdiri lalu meluncur lagi dan terguling lagi, demikian sampai di bawah. Lalu saya kembali naik menggunakan tali lift tadi. Setelah beberapa kali mencoba akhirnya saya bisa meluncur dengan lancar tanpa berguling karena dapat memanfaatkan tongkat pengayuh untuk menyeimbangkan badan. Wah, lumayan juga yah. Kali ini saya mencari rute luncuran yang agak terjal. Ternyata ketika saya meluncur ke bawah, jalur tersebut tidak hanya lebih curam dari sebelumnya, tapi juga ada gundukannya, sehingga ketika saya melewati gundukan tersebut tubuh saya sedikit melayang untuk kemudian jatuh menapak lagi di salju. Saat bilah ski saya menjejak salju lagi, tiba-tiba tubuh saya terpelanting tinggi dan berguling-guling sampai ke bawah bukit. Saya penasaran, dan pergi ke atas untuk mencobanya lagi, dan terpelanting lagi ketika mendarat selepas gundukan tadi. Demikian berkali-kali. Semacam ada per di sepatu ski yang saya kenakan, hingga tubuh saya mental ketika bilah ski saya menjejak ke permukaan salju yang sudah mulai mengeras. Bahkan terakhir kali sampai bilah ski yang saya gunakan terpental lepas dari sepatu boot saya. Sambil tetap tidur di salju akibat kecapekan saya memperhatikan bahwa orang-orang lain dapat dengan mudahnya melayang melewati gundukan dan meluncur dengan posisi tetap berdiri ketika bilah ski mereka menjejak kembali ke jalur salju. Akhirnya saya tahu: rupanya kelengkungan bilah ski yang diset oleh petugas tadi itu mengatur kelenturannya sehingga berlaku seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shock breaker&lt;/span&gt; untuk peredam kejut, rumusnya kira-kira &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mx" = -kx-bv&lt;/span&gt; atau semacam itu lah, saya lupa. Di mana &lt;span style="font-style: italic;"&gt;m&lt;/span&gt; adalah massa beban, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;b&lt;/span&gt; konstanta redaman, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;k&lt;/span&gt; adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stiffness &lt;/span&gt;pegasnya. Jadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;m&lt;/span&gt; adalah berat badan saya dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;k&lt;/span&gt; adalah nilai yang diatur oleh si petugas tadi. Karena saya memberikan informasi berat badan yang tidak sesuai dengan kenyataan, maka nilai yang diatur oleh petugas tersebut adalah nilai yang optimum untuk orang yang 10 kg lebih berat dari tubuh saya. Dengan kata lain, tubuh saya terlalu ringan untuk nilai tersebut. Itulah mengapa saya selalu terpelanting dengan keras :-P. Wah, ternyata persamaan Newton digunakan juga dalam permainan ski ini :-). Maka segera saya menuju tempat persewaan sepatu dan minta tolong pada petugas tadi untuk memasangkan bilah ski lagi ke sepatu boot saya, kali ini saya menyampaikan berat badan saya yang sebenarnya. Dan setelah itu, saya dapat menjaga tubuh dengan lebih mudah ketika meluncur di padang salju :-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olah raga musim dingin ada bermacam-macam, selain ski di atas. Jika di USA, basket dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;american football&lt;/span&gt; merupakan olah raga favorit, orang Canada sangat menggemari olah raga &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ice hockey&lt;/span&gt; alias hoki yang dimainkan di atas es menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ice blade&lt;/span&gt;. Keunikan dari olah raga ini adalah pada diperkenankannya pemain untuk bermain keras. Jadi tidak jarang sehabis bertanding, para pemainnya mengalami berbagai cedera, seperti memar, keseleo, hingga patah tulang. Untuk menghambat gerakan musuh, maka tubuh pemainnya yang memang berukuran besar-besar ditabrakkan ke tubuh lawan hingga berguling-guling di lapangan es. Memukul menggunakan tongkat hoki yang sedianya digunakan untuk memukul bola (?, bukan bola sih, bentuknya silinder pipih), apabila tidak diketahui oleh wasit dan hakim pembantu, biasanya sering dilakukan. Namun apabila ketahuan, maka pemain tersebut akan dikenakan sanksi. Tidak jarang pula karena emosi, pemain dari kedua kubu saling berpukulan. Jika terjadi hal itu, maka oleh wasit biasanya pemainan dihentikan sejenak dan mereka dibiarkan berkelahi sebentar. Setelah beberapa belas detik, keduanya dilerai dan permainan dilanjutkan lagi, tetapi kedua pemain yang berkelahi tadi tidak diperkenankan bermain untuk beberapa menit. Pernah pada suatu pertandingan lokal, ada 2 pemain yang saling &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngecing&lt;/span&gt;, keduanya terus berkelahi sepanjang waktu bermain. Ketika permainan berakhir keduanya berpelukan erat. Ternyata mereka adalah saudara kandung :-P. Aturan dibolehkannya bermain keras ini ternyata hanya berlaku di Canada. Di Eropa misalnya, permainan keras sangat dilarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.cojeco.cz/attach/photos/ostatni/curling_389799/curling-1max.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 211px; height: 141px;" alt="" src="http://www.cojeco.cz/attach/photos/ostatni/curling_389799/curling-1max.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya tidak ikut bermain hoki es tentu saja, karena saya tidak suka berkelahi. Tapi ada olah raga musim dingin yang saya sukai di sini, yaitu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;curling&lt;/span&gt;. Menurut Wikipedia: "&lt;i style="font-style: italic;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Curling"&gt;Curling&lt;/a&gt; is a precision team sport similar to bowls or bocce, played on a rectangular sheet of prepared ice by two teams of four players each, using heavy polished granite stones which players slide down the ice towards a target area called the house&lt;/i&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;. Points are scored for the number of stones that a team has closer to the center of the target than the closest of the other team's stones&lt;/span&gt;". Tahu maksudnya? Tidak? Oke, jadi curling dimainkan di atas lapangan khusus berbentuk persegi panjang yang berlapiskan es. Setiap tim terdiri atas 4 pemain. Secara bergantian mereka akan meluncurkan batu granit yang sangat berat dan berbentuk bulat di atas es dari ujung lapangan ke ujung lainnya di mana terdapat lingkaran besar yang disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house&lt;/span&gt;. Tujuan dari permainan ini adalah untuk menempatkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stone&lt;/span&gt; ke pusat lingkaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house&lt;/span&gt;. Si pelempar dibolehkan meluncur di atas es, dengan menggunakan sepatu khusus, sambil memegang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stone &lt;/span&gt;untuk mengarahkannya menuju sasaran, namun pada jarak tertentu dia harus melepaskannya dan membiarkan batu granit tersebut meluncur dan berhenti di tempat yang diinginkan. Setiap pemain bergantian melemparkan dengan masing-masing memiliki 2 kali kesempatan. Ketika seorang pemain meluncurkan batunya, pemain lain dalam timnya memegang sikat yang digunakan untuk mengatur kecepatan luncuran batu tadi di atas es. Jika ingin memperlancar jalannya batu, maka ketiga pemain akan menggosokkan sikat mereka di depan lintasan batu menuju &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house&lt;/span&gt;. Kekuatan lemparan sangat menentukan laju luncuran batu di atas lapisan es, selain bantuan dari para penyikat tadi. Setiap pemain bergantian melempar batu antar kedua tim tersebut. Sehingga, jika seorang pemain dari suatu tim berhasil menempatkan batunya di dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house&lt;/span&gt;, maka pemain tim lawan akan mencoba menyingkirkan batu tersebut dari dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house&lt;/span&gt; dengan menumbukkan batunya ke batu lawan hingga terpental sambil menempatkan diri agar berhenti di dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house&lt;/span&gt;. Pemain satu tim kemudian akan menaruh batunya di muka batu temannya yang telah berada di dalam target untuk melindunginya agar tidak ditabrak oleh batu lawan. Setelah masing-masing tim melemparkan 8 batu, disebut 1 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;end&lt;/span&gt;, maka skor dihitung. Tim yang memiliki batu di dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house &lt;/span&gt;yang paing dekat dengan pusat lingkaran akan memperoleh nilai, sedangkan lawannya tidak memperoleh nilai. Skor dihitung sebanyak batu yang berada di dslam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house &lt;/span&gt;namun lebih dekat ke pusat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house &lt;/span&gt;dibandingkan batu lawan yang terdekat dengan pusat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;house&lt;/span&gt;. Setelah 8 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;end&lt;/span&gt;, skor ditotal, dan tim yang memiliki skor paling besar itulah yang menang. Dalam permainan ini, tidak jarang pemain yang melemparkan batu akan terjatuh ketika meluncur di atas es karena tidak bisa menjaga keseimbangan; seperti yang terjadi pada saya ketika bermain curling tersebut. :-P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{1998-2000 @ canada}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-3126064758669784805?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/3126064758669784805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=3126064758669784805' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/3126064758669784805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/3126064758669784805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2007/01/salju-membeku.html' title='Salju Membeku'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-1473470917986308223</id><published>2007-01-01T01:31:00.000+07:00</published><updated>2007-01-27T13:43:43.048+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Jagal Sapi</title><content type='html'>Topik ini saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;republish&lt;/span&gt; bertepatan dengan hari raya qurban tahun ini karena berhubungan dengan sapi.&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.tynybrynfarms.com/photogallery/Limousin%20Cow.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px 20px 10px 0px; float: left; width: 200px;" alt="" src="http://www.tynybrynfarms.com/photogallery/Limousin%20Cow.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Belum seminggu saya di Fredericton, sehabis sholat Jumat di masjid, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;apartment mate&lt;/span&gt; saya mengajak saya untuk ikut ke luar kota. Sebagai orang baru, tentu saja saya senang diajak bepergian. Kamipun berangkat menggunakan mobil Ali bersama Baskent dari Turki. Mau ke mana kita, tanya saya. Rupanya kami menuju ke sebuah peternakan kecil yang berada di luar kota. Pemilik peternakan juga berprofesi sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;butcher&lt;/span&gt; atau tukang daging di Farmer's Market di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;downtown&lt;/span&gt;. Peternak tersebut kemudian menemui kami dan membawa ke kandang besar. Kami dipersilahkan untuk memilih salah satu sapi yang ada di situ. Setelah Ali memilihnya, sapi tersebut dibawa masuk ke tempat penyembelihan. Di sana, teman saya dan Baskent telah siap dengan pisau yang tajam, hendak menyembelih sapi tersebut. Rupanya karena di supermarket dan pasar tidak tersedia daging halal, para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brothers&lt;/span&gt; memilih untuk menyembelih sapi sendiri untuk menyediakan daging halal bagi penduduk yang muslim. Setiap jum'at selepas sholat biasanya diumumkan bahwa akan ada yang menyembelih sapi, barang siapa bermaksud untuk memperoleh daging sapi tersebut diharap menghubungi takmir masjid untuk menentukan banyaknya sapi yang akan disembelih berdasarkan berat yang dipesan masing-masing. Agaknya sehabis sholat tadi saya sibuk berkenalan dengan jamaah masjid yang lain, jadi tidak mendengar pengumuman tersebut. Sapipun berhasil disembelih. Sapi di sini ukurannya besar sekali, sangat berbeda dengan sapi yang sering saya jumpai di Indonesia. Sehabis disembelih, kemudian peternak itu mengikat kedua kaki belakang sapi dan mengangkatnya menggunakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;crane&lt;/span&gt; hingga tegak. Sekilas melihat ukurannya dalam keadaan berdiri tegak, sapi tersebut terlihat seperti monster :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buru-buru saya mengambil kamera dari dalam tas, hendak memotretnya. Namun tiba-tiba peternak tersebut berteriak melarang dan mengatakan sesuatu pada teman-teman saya. Saya kebingungan, ada apa ini??? Ali menjelaskan bahwa sebenarnya untuk dapat menyembelih sapi, seseorang harus memiliki izin atau lisensi dari pemerintah. Peternak ini memiliki lisensi tersebut, tetapi kan kita tidak memiliki, jadi sebenarnya kita tidak boleh menyembelih sapi sendiri. Oleh karena itu dia melarang untuk memotret karena jika ketahuan oleh yang berwenang, maka lisensinya pasti dicabut, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;and I'll go to jail&lt;/span&gt;", katanya dengan muka serius. Ali mengatakan bahwa, si peternak ini telah berbaik hati menyediakan sapi dan mengijinkan kita untuk menyembelih di sana. Dia telah mempertaruhkan pekerjaanya agar kita dapat memperoleh daging halal. Oleh karena itu kita merasa sangat berterimakasih padanya dan sebaiknya kita jangan berbuat sesuatu yang membuat dia berubah pikiran. Akan sangat sulit mencari orang lain yang mau berbuat seperti dia. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Okay, I understand&lt;/span&gt;", jawab saya. Saya ingat, ketika hendak menyembelih sapi tadi, pisau di tangan Baskent terpental sehingga hampir melukai tangannya sendiri. Si peternak itu berteriak seperti tadi. Rupanya dia mengingatkan kita agar hati-hati supaya tidak terluka. Wah perhatian sekali ya dia. Masalahnya adalah, jikalau ada kejadian yang tidak diinginkan, seseorang terluka ketika menyembelih sapi di situ, kemudian si korban dibawa ke rumah sakit untuk diberi pengobatan, tentu akan banyak pertanyaan yang akan diajukan oleh pihak rumah sakit, di mana lokasi kejadiannya, bagaimana bisa terjadi kecelakaan tersebut, apa yang dilakukan oleh si korban, dan sebagainya, hingga diketahui bahwa mereka sedang menyembelih sapi, akhirnya akan sama seperti tadi, peternak tersebut kehilangan lisensinya dan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I'll go to jail&lt;/span&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi yang telah disembelih tadi kemudian akan dipotong-potong dan ditimbang sesuai dengan pesanan para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brothers&lt;/span&gt; di masjid tadi. Besok hari Minggu kami dapat mengambilnya di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;booth&lt;/span&gt;nya tang berada di Farmer's Market &lt;span style="font-style: italic;"&gt;downtown &lt;/span&gt;dengan menyebutkan nama masing-masing. Ali telah memberinya daftar nama pemesan beserta pesanan masing-masing. Ternyata karena pembeliannya secara total dalam jumlah yang cukup besar, seekor sapi dapat memiliki berat sampai seperempat ton dagingnya, maka kita mendapat harga perkilogram daging sapi tersebut yang lebih murah dari harga biasanya. Oleh karena itu, teman-teman non muslim dari Indonesia sering juga ikut memesannya. Tapi yang lebih penting adalah, daging tersebut halal karena disembelih sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan dalam Islam. Pada saat ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;brother&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sister&lt;/span&gt; di Fredericton lebih beruntung, karena daging halal telah banyak tersedia secara luas di berbagai supermarket, seperti di Sobeys, Victory Meat Market, dan Atlantic Superstore sebagaimana diinformasikan oleh &lt;a href="http://www.fianb.com/halalmeat.htm"&gt;FIA&lt;/a&gt;. Sebuah perusahaan daging ternama di Canada, Maple Lodge Farm, sejak tahun 1999 menyediakan produk daging ayam, kambing, dan sapi halal, &lt;a href="http://www.zabihahalal.com/"&gt;Zabiha Halal&lt;/a&gt;. Meskipun demikian, peternak tadi, dan seorang peternak yang lain, sampai saat ini masih menyediakan diri untuk menjadi tempat menyembelih sapi bagi umat Islam. Hal yang bersangkutan dengan aturan yang ada agaknya telah mendapatkan penyelesaian mengingat kini dia mengumumkannya secara terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke saat menyembelih sapi tadi, saya kemudian bertanya kepada teman saya, mengapa dia mengajak saya ke situ, padahal saya tidak terlalu berani untuk melihat sapi disembelih (Sewaktu di kampung saya di Jogja, saya sering diberi tugas sebagai bagian dokumentasi untuk berbagai acara, termasuk acara penyembelihan hewan qurban. Beberapa proses penyembelihan harus juga saya ambil gambarnya. Padahal saya tidak begitu tega untuk melihat hewan-hewan tersebut disembelih. Maka cara saya memotret adalah dengan mengambil posisi yang tepat sebelumnya, dan tepat sebelum penyembelihan dilakukan saya menutup mata sambil menekan tombol untuk memotret :-P). Teman saya kemudian dengan tertawa mengatakan: "Biasanya yang menjadi jagal sapi adalah orang Indonesia. Karena saya sebentar lagi selesai kuliah dan kembali ke Jakarta, maka sebagai penerus tradisi ini, maka kamu akan menjadi jagal sapi periode berikutnya". Haaaaaaaaah. Saya hanya bisa terbengong-bengong mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{1998 @ canada}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-1473470917986308223?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/1473470917986308223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=1473470917986308223' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/1473470917986308223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/1473470917986308223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2007/01/jagal-sapi.html' title='Jagal Sapi'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-8355857846805299897</id><published>2006-12-20T17:51:00.000+07:00</published><updated>2007-01-27T23:48:42.782+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Terima Kasih</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.pro-candy.com/catalog/cgi-bin/images/catalog_large/thankyou2big.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://www.pro-candy.com/catalog/cgi-bin/images/catalog_large/thankyou2big.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;"&lt;em&gt;Sorry seems to be the hardest word&lt;/em&gt;" dan "&lt;em&gt;Hard to say I'm sorry&lt;/em&gt;". Demikian kata para penyanyi untuk menunjukkan betapa sulitnya kita meminta maaf. Namun ternyata ada kata lain yang biasanya tidak mudah kita ucapkan: terima kasih (&lt;em&gt;thanks, danke, merci, gracias, shukran, arigato gozaimasu, matur nuwun, hatur nuhun, matur suksama ..., etc&lt;/em&gt;). Seorang teman kebingungan saat-saat awal kuliah di Jerman, karena setiap selesai kuliah/kelas terdengar suara riuh rendah tangan mahasiswa mengetuk-ngetuk (memukul) meja/bangku di kelas. Setelah beberapa kali kuliah, ada seorang temannya yang mengetahui dia tidak ikut mengetukkan tangan di meja, kemudian mengingatkan dia agar ikut mengetuk meja jika kuliah sudah selesai. "Mengapa harus mengetuk meja?", tanyanya. Temannya lalu menjelaskan bahwa itu adalah tradisi di Jerman untuk menghargai dosen yang telah memberikan kuliah. Wah, seperti tepuk tangan saja kayaknya ya. :-P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal-awal saya menjadi asisten di Universiti Teknologi Petronas Malaysia, saya juga mengalami kekagetan yang sama seperti teman saya tadi. Setiap selesai mengampu tutorial di kelas atau sehabis praktikum di lab, para pelajar (mahasiswa) mendatangi saya dan mengucapkan terima kasih. "&lt;em&gt;Thank you s&lt;/em&gt;ir", kata mereka. Ini bukan hal yang biasa saya temui di Jogja. Saya belum mengkonfirmasi apakah di tempat lain di Indonesia juga sama, tapi beberapa teman yang berasal dari daerah yang berbeda ketika saya tanya mengatakan hal yang sama: ketika kelas bubar, para mahasiswa kebanyakan langsung saja keluar tanpa menyapa dosennya (beberapa mengerubungi dosen sambil menyodorkan &lt;em&gt;flashdisk&lt;/em&gt; untuk mengkopi bahan kuliah yang baru saja ditayangkan) :-).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang saya alami di UTP itu menarik bagi saya. Bukannya kita gila terima kasih, karena toh apa yang kita lakukan adalah tugas yang memang sudah seharusnya kita jalankan tanpa mengharap terima kasih. Namun, saya coba berfikir, apa yang ada di balik peristiwa itu (&lt;em&gt;ceile&lt;/em&gt;...). Apa kira-kira yang mendorong para mahasiswa mengucapkan terima kasih di setiap akhir kuliah. Boleh jadi kita berfikir bahwa itu hanyalah tradisi semata, namun kalau melihat raut wajah mereka, kelihatannya mereka melakukannya dengan tulus. Tentu saja itu adalah tradisi yang baik, dan membentuk suatu tradisi tentu saja tidak mudah dan memerlukan waktu yang sangat panjang, karena menyangkut perubahan &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt;. Lumrahnya, seseorang akan menyampaikan terima kasih apabila dia memperoleh sesuatu yang bermanfaat bagi dia. Dengan demikian, secara positif kita berfikiran bahwa para mahasiswa tersebut merasa memperoleh sesuatu yang bermanfaat dari kita dalam kelas yang kita ampu tadi hingga mereka merasa "berkewajiban" untuk mengucapkan terima kasih. Hanya saja yang perlu kita renungkan adalah: apakah kita "berhak" untuk menerimanya, jika kita bandingkan dengan apa yang telah kita berikan pada mereka. Sebagai pendidik, adalah suatu kebahagiaan tersendiri ketika apa yang kita sampaikan pada anak didik (padahal belum tentu anak-anak lho) dapat diterima dengan baik, apalagi kalau sampai mereka merasakan manfaatnya. Namun bagi saya, tidak ada tempat berhenti untuk berpuas diri sampai di sini; hal itu memotivasi saya untuk lebih meningkatkan lagi kinerja saya, dengan harapan agar penerimaan mereka tidak berkurang. Dengan demikian, proses pembelajaran oleh mahasiswa yang kita fasilitasi adalah sesuatu yang bersifat manusiawi dan melibatkan perasaan, bukan hanya sekadar transaksi seperti halnya jual beli barang, atau hanya sekadar menjalankan tugas seadanya. Coba: kebanyakan dari kita memiliki &lt;em&gt;sense of appreciation&lt;/em&gt; yang relatif rendah. Berapa banyak kita yang memberi apresiasi pada hasil kerja mahasiswa dalam mengerjakan tugas. Tidakkah sebaiknya kita juga berterimakasih pada mereka ketika mereka mengumpulkan tugas dengan baik dan tepat waktu: "Terima kasih telah membantu memperlancar proses pembelajaran yang telah dirancang", misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman yang lebih menarik lagi, tidak cukup dengan mengucapkan terima kasih, seorang teman yang kelas yang diampunya semua mahasiswanya adalah laki-laki, ketika selesai kuliah semua mahasiswanya tadi antri untuk menyalami dia. Pemandangannya kira-kira sama seperti saat pamitan kenduren :-P. BTW, ini adalah salah satu dari banyak hal baik yang dimiliki oleh masyarakat Malaysia dalam pandangan saya. &lt;em&gt;Two thumbs up&lt;/em&gt; deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan terima kasih memang menimbulkan energi positif baik pada si pemberi maupun si penerima. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;By the way&lt;/span&gt;, energi positif tersebut dapat bernilai lebih tinggi lagi apabila kita memberikan lebih dari ucapan terima kasih. Ucapan itu kan disampaikan sebagai ganti atas apa yang telah diberikan oleh si penerima pada pemberi, yang dapat berupa barang, jasa, maupun ucapan, dukungan moril, dan lain-lain. Sebagai muslim, adalah lebih afdol jika kita juga mengucapkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jazakallahu khayraan&lt;/span&gt; misalnya. Dengan kata lain, kita mendo'akan orang yang telah membantu kita tersebut dengan do'a semoga Allah Swt membalasnya dengan kebaikan. Bayangkan apabila ketika mendengar do'a tersebut, orang yang kita terimakasihi membalasnya lagi dengan do'a yang sama. Maka energi positif yang muncul menjadi berlipat-lipat semakin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{2006 @ malaysia}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-8355857846805299897?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/8355857846805299897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=8355857846805299897' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/8355857846805299897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/8355857846805299897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/12/terima-kasih.html' title='Terima Kasih'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-1304511818492453253</id><published>2006-12-01T02:49:00.000+07:00</published><updated>2007-01-29T05:40:47.156+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Berlalulintas dengan Baik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.carnet-de-voyage.net/Photos%20Canada/images/canada%20ottawa%20march%E9%20by%20by%20market%20police%20mont%E9e%2033.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; width: 240px; cursor: pointer;" alt="" src="http://www.carnet-de-voyage.net/Photos%20Canada/images/canada%20ottawa%20march%E9%20by%20by%20market%20police%20mont%E9e%2033.jpeg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ada unit kepolisian Canada yang menggunakan kuda sebagai tunggangan (lihat gambar). Aksi juga ya, biasanya mereka bertugas di pedesaan sehingga mudah untuk mengejar penjahat yang melarikan diri melewati pegunungan dan hutan. Cerita-cerita kali ini ada yang berhubungan dengan polisi terutama saat berlalulintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu &lt;em&gt;summer&lt;/em&gt; kami berbanyak orang pergi ke daerah pedesaan di sebelah selatan New Brunswick dekat pembangkit listrik tenaga air. Di sebelahnya ada danau yang cukup besar hingga angin dapat menyebabkan terjadinya ombak kecil. Di tepi danau ditimbun pasir yang diambil dari pantai. Orang-orang di situ menyebut tempat itu &lt;em&gt;beach&lt;/em&gt; alias pantai karena kalau ke pantai yang sesungguhnya jaraknya cukup jauh (Orang Canada benar-benar seleranya rendah deh untuk urusan perpantaian. Pernah kami pergi ke Saint John dan mengunjungi Tourist Information Center untuk menanyakan pantai yang terbagus di sana. Oleh petugasnya kami diberi petunjuk jalan ke pantai yang terbagus menurut catatan mereka. Namun betapa kecewanya kami ketika sampai di sana, ternyata gak bagus-bagus amat deh. Bahkan jauh lebih bagus pantai-pantai di Jogja atau Jawa. Dan, pastilah mereka akan sangat terkejut kalau mengunjungi pantai-pantai di Pulau Bali atau Lombok. Dijamin:-) Kami menyewa rumah mobil (&lt;em&gt;caravan&lt;/em&gt;) untuk beberapa hari dan menyiapkan &lt;em&gt;barbeque&lt;/em&gt; yang merupakan tradisi kami selama musim panas. Tetangga kami di &lt;em&gt;camping ground&lt;/em&gt; adalah keluarga dengan beberapa anak kecil. Pagi-pagi saya mengobrol dengan 2 anak mereka yang membawa ular yang diambil dari hutan di sebelah bumi perkemahan tersebut. Kok tidak takut? Kata mereka, salah satu pelajaran di sekolah mereka adalah pengenalan alam yang di antaranya pergi ke hutan untuk mengidentifikasi ular yang beracun ataupun yang tidak, "&lt;em&gt;And this one is not poisonous&lt;/em&gt;", kata mereka. Wah ini rupanya bagian dari pendidikan di sana: mengenal alam, sehingga kamu mencintainya, tak kenal maka tak sayang kan. Pagi itu sehabis sarapan buatan sendiri, kami pergi ke pantai. Kebetulan seorang teman ingin menyetir, maka kami persilahkan menyetirlah dia ke pantai danau tadi. Di perjalanan kami lihat jauh di muka ada truk yang berjalan ke arah kami dengan laju yang cukup cepat. Kayaknya pengemudi truk itu mabuk deh, mosok jalan bukan di sisi yang benar. Maka teman saya tadi mengklaksonnya. Anehnya si pengemudi truk malah gantian mengklakson dan menyalakan lampu jauh. Wah, bener-bener mabuk nih dia. Ketika truk tersebut sudah agak dekat, tiba-tiba saja salah satu dari kami teringat: lho, di Canada tuh kendaraan jalan di sebelah kanan, bukan kiri seperti di Indonesia. Menyadari hal itu, teman kami segera membanting setir ke kanan dan kembali ke sisi yang benar. Pengemudi truk melintasi mobil kami sambil mengacungkan jempol ke atas dan tersenyum. Jadi, siapa yang mabuk? :-P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fredericton adalah kota yang dibelah oleh sebuah sungai, yaitu Saint John River. Pusat kota atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;downtown&lt;/span&gt; terletak di tepian sungai yang cukup lebar tersebut. Dua buah jembatan melintas di atas sungai menghubungkan kedua sisi kota. UNB sendiri terletak di atas bukit hampir 1 km dari sungai. Kami sering turun ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;downtown&lt;/span&gt; untuk berjalan-jalan di taman yang terletak memanjang di tepi sungai. Taman-taman tersebut diselingi hutan yang di dalamnya sering digunakan untuk bersembunyi para gelandangan. Kegiatan menggelandang merupakan perbuatan melanggar hukum di New Brunswick. Bagi orang yang tidak punya rumah telah disediakan rumah penampungan oleh pemerintah daerah. Makanan serta pakaianpun disediakan secara gratis. Di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mall&lt;/span&gt;, di pintu keluar supermarket, terdapat kotak yang disediakan bagi pengunjung mall untuk menyumbang makanan atau benda-benda kebutuhan hidup yang lain bagi penghuni rumah penampungan tersebut. Namun, tetap saja banyak gelandangan yang memilih untuk tinggal di luar karena jika tinggal di rumah penampungan tersebut mereka merasa tidak bebas lagi: harus pulang sebelum pukul 10 malam, serta tidak boleh mabuk-mabukan. Alhasil, mereka memilih untuk bersembunyi di hutan misalnya, tentu dengan risiko masuk pengadilan jika tertangkap polisi. Rumah penampungan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pendatang jika tidak punya uang untuk menginap dan membeli makanan, atau bagi pendatang yang pelit pada dirinya sendiri dan mau menghemat uangnya :-) Suatu kali, kami bepergian ke sungai, seperti kebiasaaan setiap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;summer&lt;/span&gt;, untuk bermain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;canoe&lt;/span&gt; atau kayak di sungai. Sementara teman-teman berjalan kaki, saya meminjam sepeda seorang teman yang kuliah di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;community college&lt;/span&gt; yang ada di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;downtown&lt;/span&gt;. Terlihat seorang polisi mendekat, kami mengenalinya sebagai polisi taman: menggunakan sepeda juga dan mengenakan celana pendek. Dia menghentikan sepeda saya dan mengingatkan saya untuk menggunakan helm. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yes sir. I'll wear it. I forgot to bring it by me&lt;/span&gt;". Oke, lain kali pakai ya. Saya mengangguk dan dia pergi. Saya sendiri kemudian menuntun sepeda tersebut sampai kami pulang, tidak berani mengendarainya karena tak pakai helm. Betul-betul kota yang teratur berlalu-lintas. Sampai di tamanpun tetap harus berlalulintas dengan baik :-P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat lain, saya pulang dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;camp&lt;/span&gt; militer di Gagetown (pada bagian lain saya telah bercerita tentang pengungsi Kosovo di Kanada). Gagetown berada di daerah pedesaan yang sepi, sekitar 20 km dari Fredericton. Karena tidak punya kendaraan sendiri, saya menumpang mobil Ali, seorang mahasiswa program doktoral dari Tanzania. Ali ini adalah teman yang menjemput saya dari bandara Fredericton ketika saya tiba untuk pertama kali di sana, dan juga teman yang mengantar ke bandara ketika saya hendak pulang ke tanah air selepas menyelesaikan studi saya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thanks alot Ali, you are my real brother&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;God bless you and your family&lt;/span&gt;. Sayang sekali kau harus mendapat cobaan fitnah dari orang-orang di negara asalmu. Berdua naik mobil kami menyusuri jalanan desa menuju jalan utama. Sebelum memasuki jalan utama, kami melewati gerbang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;camp&lt;/span&gt; serta melapor ke petugas yang berjaga yang kemudian membukakan palang pintu gerbang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;camp&lt;/span&gt;. Jarak antara gardu jaga dengan jalan utama sangat dekat sekali, sekitar 10 m. Sekeluar dari pintu gerbang, sambil menengok kiri kanan melihat jalan utama yang sepi. Ali langsung membelokkan mobil masuk jalan utama, meskipun kami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;aware&lt;/span&gt; dengan rambu lalu lintas yang bertuliskan Stop, toh jalan sepi gitu kok, tidak ada kendaraan lain selain mobil yang saya tumpangi. Baru sekitar 25 m dari saat kami membelok, terdengar suara sirine dari arah belakang, nguuuung. Saya mengenalinya sebagai suara sirine mobil polisi. Benar, ada mobil polisi di belakang kami. Lhah... dari mana munculnya mobil itu, kok tadi tidak kelihatan sama sekali. Rupanya mobil itu juga baru saja keluar dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;camp&lt;/span&gt; Gagetown. Ali segera menepikan mobil dan memperlambat jalannya. Mobil polisi tadi melintas di sisi mobil kami. Salah satu  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;officer &lt;/span&gt;menjulurkan kepala ke arah kami dan berteriak: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Next time we'll fine you 50 bucks&lt;/span&gt;". Kami pun mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti dan mereka segera melajukan kendaraan serta meninggalkan kami. Ali berkata bahwa kami telah berbuat salah karena melanggar rambu lalu lintas bertuliskan Stop tadi. Sebelum masuk jalan utama, kami semestinya berhenti sampai kendaraan tidak bergerak sama sekali, dan jika kondisi memungkinkan baru boleh menjalankan kendaraan lagi masuk ke jalan utama. Padahal tadi jelas tidak ada kendaraan sama sekali yang melintas di jalan utama ketika kami akan masuk. Tapi tetap saja, di sini kita harus berlalulintas dengan baik. :-P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal berlalulintas dengan baik menggunakan kendaraan, SIM (surat izin mengemudi) merupakan benda yang sangat penting yang harus dimiliki pengemudi kendaraan bermotor. Di Indonesia, sudah menjadi rahasia umum secara luas bahwa ujian SIM hanya formalitas belaka. Yang lebih parah lagi bahkan tanpa ujian pun SIM bisa diperoleh dengan mudah. Itulah mengapa tingkat pelanggaran lalulintas di negeri kita tercinta sangat tinggi, sebaliknya etika dan sopan santun berlalulintas kita sangat rendah sekali. Di Kanada untuk memperoleh SIM, seseorang harus mengikuti ujian teori dan ujian praktek mengemudi. Ujian teori biasanya dapat dilakukan dengan mudah karena materinya dapat dipelajari dari buku. Namun yang menjadi momok biasanya adalah pada saat ujian praktek. Seorang teman dari RRC bermaksud mencari SIM, ketika selesai ujian praktek, melihat wajahnya yang sedih kami bertanya: bagaimana Wu, apakah sukses ujiannya? Dia hanya menggelengkan kepala. Kenapa? tanya kami lagi. Rupanya dia menjalankan mobilnya terlalu cepat alias ngebut. Jelas saja dia gagal, karena ngebut atau menjalankan kendaraan melebihi kecepatan yang diperkenankan adalah pelanggaran yang tergolong cukup berat karena membahayakan diri sendiri dan orang lain. Dia baru diperbolehkan ikut ujian lagi setelah 2 minggu. Pada kesempatan berikutnya, dia mengikuti ujian praktek lagi. Sehabis ujian, dia terlihat tertunduk lesu, wah gagal lagi kayaknya. Padahal kan dia sudah belajar dari pengalaman sebelumnya. Kamipun bertanya lagi: bagaimana Wu, apakah sukses ujiannya? Dia kembali menggelengkan kepala. Kenapa? tanya kami lagi. Kamu tidak ngebut lagi kan? Wu menjelaskan bahwa kali ini dia gagal ujian karena menjalankan mobilnya terlalu lambat sehingga terlalu banyak mobil lain yang terpaksa antri di belakangnya. Ada-ada saja :-P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi begitulah, memang petugas di sana tegas dan taat pada aturan yang ada. Seorang teman dari Jakarta membuat SIM internasional sebelum berangkat ke Kanada, dengan harapan dapat menggunakannya di sana. Apa daya ternyata SIM tersebut dianggap tidak berlaku, sehingga dia harus mencari SIM lagi di sana. Seorang teman lain dari Surabaya tidak sempat mencari SIM internasional ketika di Indonesia. Namun dia membawa SIM Indonesianya yang dibuat di Surabaya. Iseng-iseng dia tanyakan ke kantor urusan lalulintas di Fredericton, apakah SIM tersebut berlaku. Petugas agak kebingungan memeriksa SIM tersebut, karena semuanya tertulis dalam bahasa Indonesia, kecuali satu, yaitu: ada tulisannya Driver License. O jadi ini memang surat ijin mengemudi, katanya, lalu dilihatnya ada huruf C besar di latar belakang kartu SIM tersebut. Lho, apa arti huruf C ini, tanyanya. Dengan tenang teman saya menjawab: oh, C itu artinya Car. Petugaspun manggut-manggut, jadi ini surat ijin mengemudi mobil. Akhirnya SIM tersebut boleh dipergunakan oleh teman saya tadi, dengan alasan status teman saya adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;student&lt;/span&gt;. Namun ada batasannya. Saya kurang jelas dengan maksud batasan tersebut, apakah artinya dibatasi untuk waktu tertentu atau untuk daerah tertentu, misalnya tidak boleh keluar kota. Yang jelas tak sampai setahun kemudian teman saya mengikuti tes untuk memperoleh SIM di sana. Dia pun harus melakukan ujian praktek, mengemudi di jalan raya dengan ditemani oleh petugas yang duduk di kursi sebelahnya. Saat pertama masuk mobil, petugas langsung membuat catatan di bloknotnya. Teman saya langsung berkeringat dingin: apa kesalahan saya, pikirnya. Rupanya ketika dia masuk mobil, setelah menutup pintu dia langsung memegang kunci mobil dan menstaternya. Padahal menurut aturan, sebelum menstater mobil, yang pertama dilakukan adalah memasang sabuk pengaman, kemudian kita harus memeriksa persneling dulu untuk memastikan posisinya adalah netral, baru boleh menstater mesin. Teman saya menjadi gugup, karena dia mendapat 1 poin kesalahan. Apabila poin kesalahannya telah mencapai 5 maka dia akan dinyatakan gagal dalam ujian praktek ini. Dia jadi berhati-hati dalam menyetir, tapi kemudian ingat kasus si Wu yang gagal karena berjalan terlalu pelan sehingga mengeblok arus lalulintas di belakangnya. Jadi harus agak kencang jalannya, pikirnya. Tiba di perempatan jalan lampu merah menyala, teman saya menghentikan mobil. Si petugas mengatakan sesuatu dan memberi tanda untuk nanti membelok ke arah kiri. Saking gugupnya, teman saya langsung tancap gas dan membelokkan mobil ke arah kiri. Padahal lampu masih berwarna merah, karuan saja persimpangan tersebut langsung jadi riuh dengan suara klakson mobil dari arah depan yang jalannya terpotong oleh mobil teman saya. Petugaspun ikut berteriak-teriak hingga teman saya makin gugup. Akhirnya setelah lolos dari perempatan tersebut, petugas langsung berkata: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Let's go back to office. You almost killed me&lt;/span&gt;". Teman saya lemas, itu tanda-tanda bahwa dia telah gagal ujian praktek ini, dan tidak diperbolehkan mengikuti ujian selanjutnya selama minimal 1 bulan :-) Makanya, berlalulintaslah dengan baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{1998-2000 @ new brunswick}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-1304511818492453253?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/1304511818492453253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=1304511818492453253' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/1304511818492453253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/1304511818492453253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/12/berlalu-lintas-dengan-baik.html' title='Berlalulintas dengan Baik'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-6931657030600035200</id><published>2006-11-14T01:02:00.000+07:00</published><updated>2006-12-23T16:34:01.672+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Hotel Mahal</title><content type='html'>&lt;a href="http://images.wctravel.com/images-hotels/10218411/CA10025_0.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 10px 0px 0px 10px; alt: " src="http://images.wctravel.com/images-hotels/10218411/CA10025_0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tiba di Toronto tepat tengah malam. Menurut rancangan semula, saya akan dijemput oleh petugas dari Atomic Energy Canada Limited (AECL). Di imigrasi ada sedikit kesulitan. Dalam form tawaran beasiswa Universiti of New Brunswick (UNB) tertulis bahwa saya harus memiliki izin bekerja (&lt;em&gt;working permit&lt;/em&gt;) untuk nanti bekerja sebagai asisten di UNB. Saya sudah menanyakannya ke Kedubes Canada di Jakarta dan mendapat penjelasan bahwa izin tersebut nanti dapat diurus di universitas tujuan (UNB) setiba saya di sana. Oleh petugas imigrasi, izin tersebut ditanyakannya. Saya menjawab sesuai apa yang disampaikan di Kedubes tadi. Namun petugas imigrasi mengatakan saya tidak bisa masuk ke wilayah Canada kalau tidak ada izin tersebut, yang harus diurus di negara asal (Indonesia). Meski saya ngeyel karena merasa dipingpong, lha wong saya sudah sampai di Canada je kok disuruh ke Jakarta lagi, petugas tersebut tetap tidak mau tahu, karena itu tertulis di formulir tawaran beasiswa yang merupakan persyaratan untuk memperoleh &lt;em&gt;student visa&lt;/em&gt;. Lantas gimana? tanya saya. Ya kamu harus minta izin dulu di Kedubes Canada di Jakarta. &lt;em&gt;We lah&lt;/em&gt;. Lha ini saja baru sampai di Toronto mosok disuruh balik. Akhirnya saya &lt;em&gt;cooling down&lt;/em&gt;, meski hati ini ya dag dig dug, lha mau dideportasi balik ke Indonesia, alamat tidak jadi melanjutkan kuliah nih. Saya perhatikan petugas ini masih yunior sekali kayaknya, karena dia sering ke ruang kantor di belakangnya untuk minta &lt;em&gt;advice&lt;/em&gt; dari &lt;em&gt;supervisor&lt;/em&gt;nya ketika melayani penumpang yang baru turun dari pesawat. Lalu saya bilang ke dia: &lt;em&gt;"Could you consult your supervisor about this&lt;/em&gt;". Alhamdulillah dia menurut, dan setelah beberapa menit menghilang ke belakang dia mengatakan: "&lt;em&gt;Okay Balza, you may enter Canada. This form is the absolete one. The new regulation allows you to work inside the university without special working permit&lt;/em&gt;". Lega sekali. Tapi saya masih &lt;em&gt;curious&lt;/em&gt; sekali, sehingga ketika tiba di universitas, saya tanyakan hal ini ke calon &lt;em&gt;supervisor &lt;/em&gt;saya yang kebetulan saat itu juga menjabat sebagai Head of Postgraduate Studies Program. Jawabnya, bikin gondok deh: kita mau menghabiskan &lt;em&gt;form&lt;/em&gt; yang lama dulu sebelum mencetak form yang baru!! Payah deh. :-) &lt;em&gt;Kene wis deg-degan setengah mati je&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beres di imigrasi, saya keluar dan celingukan mencari-cari orang yang membawa papan bertuliskan nama saya, setelah sekian puluh menit tidak ketemu juga, akhirnya saya putuskan untuk menelpon perwakilan AECL di Jakarta yang mengurusi keberangkatan saya ke Canada ini. Tengah malam di Toronto berarti sama dengan tengah hari di Jakarta, karena Canada tepat di bawah Indonesia (dengan selisih 11 jam saat &lt;em&gt;winter&lt;/em&gt; dan 12 jam saat &lt;em&gt;summer&lt;/em&gt;. Lho kok antara musim panas dan musim dingin berbeda? Itu akibat adanya &lt;em&gt;winter saving&lt;/em&gt;, yang saya sendiri tidak tahu apa dasarnya sehingga setiap bulan April saya harus mempercepat jam sebesar 1 jam sedangkan pada bulan Oktober harus memperlambat jam sebesar 1 jam). Setelah membeli kartu telepon 20 CAD di &lt;em&gt;vending machine&lt;/em&gt;, saya menelepon sekretaris Direktur AECL wilayah Asia Pasifik di Jakarta. Saya diminta menelepon lagi setelah 15 menit karena dia akan menghubungi salah satu pegawai &lt;em&gt;headquarter&lt;/em&gt; AECL di Canada yang terpaksa ditelepon ke rumahnya karena di sini sudah tengah malam. Setelah saya telpon lagi ternyata ada kesalahan informasi, dikiranya saya tiba di Toronto pukul 12 tengah hari ;-) Jadi si penjemput baru akan muncul di airport besok siang dan saya terkatung-katung di sini. Padahal penerbangan saya selanjutnya adalah ke Fredericton besok pagi. Akhirnya saya diminta mencari hotel terdekat dan menginap di sana dengan uang sendiri dulu, kalau sudah nanti kuitansinya dimintakan &lt;em&gt;reimburse&lt;/em&gt; ke AECL. Ya sudah, saya pergi mencari taksi dan minta diantar ke hotel yang paling dekat. Oleh supir taksi saya dibawa ke Holiday Inn Airport yang terletak di dalam airport Toronto. Wah hotel mahal nih, dari &lt;em&gt;congkrongan&lt;/em&gt;nya sudah kelihatan. Tapi karena sudah sangat mengantuk setelah menjalan penerbangan selama puluhan jam dari Indonesia, saya langsung &lt;em&gt;check in&lt;/em&gt; dan beristirahat di kamar. Paginya saya mendapat &lt;em&gt;wake up call&lt;/em&gt; atas permintaan saya sebelumnya dan berangkat ke airport lagi. Ketika melihat &lt;em&gt;bill&lt;/em&gt;nya, saya cukup kaget juga karena kalau dirupiahkan saat itu saya harus membayar sejumlah sekitar Rp 1.850.000,- hanya untuk menginap selama 6 jam saja. Untung saya membawa cukup &lt;em&gt;sangu&lt;/em&gt; dalam bentuk USD. Anggap saja sebagai &lt;em&gt;celengan&lt;/em&gt; karena selang beberapa hari kemudian saya mendapat &lt;em&gt;reimburse&lt;/em&gt; dari AECL secara penuh. Wah, agak menyesal juga mengapa saya waktu itu tidak memesan &lt;em&gt;room service&lt;/em&gt; sebanyak-banyaknya :-) He.. he... itu sih aji mumpung. :-P&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-&gt; berikutnya: hotel mahal di Bangkok-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0)"&gt;{1998 @ toronto &amp;amp; 2004 @ bangkok}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-6931657030600035200?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/6931657030600035200/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=6931657030600035200' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/6931657030600035200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/6931657030600035200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/11/hotel-mahal.html' title='Hotel Mahal'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-2239665924635885289</id><published>2006-11-01T03:52:00.000+07:00</published><updated>2007-01-30T20:16:43.791+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Patuh pada Hukum</title><content type='html'>Kita sering mengeluhkan kepatuhan masyarakat terhadap hukum yang berlaku serta pelaksaan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;law enforcement&lt;/span&gt; oleh aparat penegak hukum. Bagaimana hukum dipatuhi di Fredericton?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.skylinknetworks.com/blog/images/image6.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" src="http://www.skylinknetworks.com/blog/images/image6.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tentang pelecehan&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kali istri teman seapartemen saya melahirkan anaknya yang kedua di rumah sakit yang jaraknya terjangkau dengan berjalan kaki dari Magee House. Anaknya yang sulung bersikukuh tidak ingin punya adik, namun karena tidak mau ditinggal sendirian di apartemen ketika kami semua menengok ke rumah sakit, dengan terpaksa dia mau ikut. Lucunya ketika mau pulang dari sana, si sulung tidak mau ikut pulang; ingin menginap dengan adiknya katanya. Lho? katanya tadi gak mau punya adik :-) Semasa di rumah sakit, saya melihat banyak selebaran yang berisi informasi mengenai pelecehan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;harassment&lt;/span&gt;). Dicantumkan di situ bahwa yang termasuk dalam pelecehan adalah: menanyakan pada seseorang (terutama wanita), apakah dia sudah menikah atau belum. Jadi jangan coba-coba bertanya "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;are you married&lt;/span&gt;" jika tidak mau di&lt;span style="font-style: italic;"&gt;sue&lt;/span&gt;, kecuali kepada orang yang benar-benar sangat karib (tapi kalau sudah akrab ya berarti sudah tahu, gak usah bertanya). Lantas bagaimana orang tahu apakah seseorang telah menikah atau belum tanpa menanyakannya. Ya bisa bertanya pada orang lain, tidak langsung ke yang bersangkutan, atau dengan melihat ada tidaknya cincin di jari tangannya. Teman saya, si Marc, marah-marah ketika melihat saya tidak menggunakan cincin di tangan saya. "Kamu mau menipu ya"? Lho??? Saya memang tidak pernah memakai apa-apa di tangan, termasuk jam tangan sangat jarang saya pakai. Sori ya Marc, kali ini saya tidak mau mengikuti tradisi di sini, males sih pakai sesuatu di tangan ;-) Di kampus UNB, ada ketentuan bahwa jika seorang mahasiswa menemui dosen di ruangannya, maka pintu harus terbuka lebar - tidak boleh ditutup - baik mahasiswa atau dosen tersebut laki-laki atau perempuan. Jika melanggar, wah bisa kena tuntutan pelecehan tuh. Di sini juga jangan mudah memuji seseorang. Apabila anda mengatakan pada seorang wanita: "Anda cantik sekali", maka bersiaplah untuk dituntut jika dia tidak berkenan. Padahal kalau dipuji-puji harusnya senang ya :-P Wah, apalagi kalau alih-alih memuji malahan mengejek, misalnya memanggil "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hey fatman&lt;/span&gt;" pada seseorang yang sangat gemuk. Bisa-bisa itu mengantarkan anda ke depan meja hijau. Salah satu teknisi di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mechanical Engineering&lt;/span&gt; yang di&lt;span style="font-style: italic;"&gt;assign&lt;/span&gt; untuk membantu riset saya adalah Garry Armstrong. Suatu kali kami harus memindah tumpukan timbal berblok-blok ke bagian lain di lab. Si Garry ini orangnya tinggi besar dan sangat kuat, dia sekali angkat dapat membawa lebih dari 2 blok sekaligus, sementara saya hanya mampu membawa 1 blok, itupun harus sering-sering saya taruh di tengah jalan. Melihat itu, secara refleks jiwa keplesetan saya mendorong saya berucap: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;no wonder that your name is Armstrong&lt;/span&gt;", habis tangannya kuat banget sih ;-) Apa yang terjadi? Dia berkata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I'm insulted&lt;/span&gt;". Kalimat pendek yang kemudian membuat saya terkejut dan kemudian terdiam. Saya tidak tahu apakah dia guyon atau tidak (menanggapi guyonan saya tadi) karena mukanya dingin sekali saat mengatakan itu, tapi saya benar-benar khawatir kalau dia merasa dilecehkan lantas mengajukan kasus tersebut ke pengadilan. Untunglah sampai saat ini, tidak ada surat panggilan untuk saya. Pfufffff. #:-S&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tentang main hakim sendiri&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Main hakim sendiri tentu berbeda dengan main &lt;em&gt;solitaire&lt;/em&gt; sendiri :-) Yang ini berkaitan dengan perlakuan terhadap seseorang yang dicurigai melakukan tindakan kriminal oleh orang yang tidak berwenang. Definisi 'perlakuan' ini yang mungkin menjadikan berbeda. Suatu sore, Prof. Holloway terlihat tergopoh-gopoh lari di koridor Head Hall. Kami yang melihatnya pun kaget dan bertanya: &lt;em&gt;"What's trouble, Prof&lt;/em&gt;"? Dia kelihatan bingung, kemudian berkata: "&lt;em&gt;Someone ruined my table and broke my drawer while I was out of my room. I saw him inside my room when I entered&lt;/em&gt;". Kalau begitu tertangkap basah dong. Lalu mengapa tidak ditangkap saja orang itu, tanya kami. Tubuh Prof Holloway lumayan besar, pasti dia mampu menangani tamu tak diundang tersebut. "&lt;em&gt;I need to look for the security&lt;/em&gt;", katanya menjelaskan. Rupanya dia tidak berani menangkap si penyusup itu karena takut nanti akan dituntut main hakim sendiri oleh orang tersebut. Lho? Lain lagi cerita teman yang mendapat kabar bahwa seorang petani di sebuah di desa di sekitaran Fredericton dituntut oleh seseorang yang berusaha memasuki rumahnya. Si 'pencuri' tersebut berusaha memasuki rumah petani tadi dengan cara membobol jendela. Si tuan rumah yang mengetahui gerak-gerik calon pencuri ini kemudian memukul tangannya yang dimasukkan melalui sela-sela jendela yang telah berhasil dirusak. Alhasil, tangan orang itu luka cukup parah dan dia menuntut si petani karena main hakim sendiri. Lhoo?? Di lain waktu, seorang pencuri telah berhasil masuk ke dalam rumah calon korbannya, namun ketika dia sedang naik tangga menuju ke lantai 2, tiba-tiba dia terpeleset karpet yang digelar di atas tangga. Alhasil, orang itu terjatuh hingga luka, lantas dia menuntut si tuan rumah karena lalai sehingga rumahnya berbahaya bagi orang lain. Lhooo??? :-) Lantas apakah memang tidak pernah ada permainan hakim sendiri di Fredericton? Tetap ada dong. Di &lt;em&gt;downtown&lt;/em&gt; terdapat sebuah bar yang khusus tempat berkumpulnya orang-orang yang tidak &lt;em&gt;straight&lt;/em&gt;, karena memang dilegalkan secara hukum. Nah, pada hari Sabtu malam sering terjadi pemukulan terhadap seseorang yang baru saja keluar dari bar tersebut oleh orang-orang tidak dikenal yang kemudian langsung melarikan diri. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa meskipun legal secara hukum, kebanyakan masyarakat tidak menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hukum dilanggar saat summer&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sih Fredericton itu terkenal aman. Di Magee House, kalau saya perhatikan, kebanyakan mobil penghuni tidak dikunci ketika ditinggal di &lt;em&gt;parking lot&lt;/em&gt; apartemen. Ini untuk memudahkan mereka menggunakan mobil ketika memerlukannya. Apartemen kami sendiri di nomor 705, yang merupakan two-bedrooms apartment, tidak pernah terkunci baik siang maupun malam untuk memudahkan keluar masuk penghuninya yang berjumlah 5 orang (saya sekamar dengan teman dari ITS serta di kamar lain tinggal teman dari Departemen Kehutanan sekeluarga). Tapi tak pernah ada berita kehilangan, secara normalnya. Namun (selalu ada namun nih), &lt;em&gt;when summer comes&lt;/em&gt;, semua orang harus lebih ekstra hati-hati karena banyak pengunjung dari luar kota yang berdatangan ke kota kami. Pada saat itu sering terjadi kehilangan. Seorang mahasiswa kehilangan mobilnya yang diparkir di tempat parkir apartemen, dia sendiri tidak mengetahui bahwa mobilnya diambil orang karena tidak keluar rumah seharian. Lantas malam harinya dia mendapat &lt;em&gt;calling&lt;/em&gt; dari RCMP (polisi Kanada) yang mengabarkan bahwa dia diminta mengambil mobilnya yang ada di tempat parkir Regent Mall karena mall sudah tutup. Rupanya si pencuri tidak berniat mencuri mobil tersebut, tetapi hanya memanfaatkannya untuk pergi ke mall daripada harus berjalan kaki melewati hutan yang ada di belakang Magee House atau mengeluarkan uang untuk naik taksi. Yang lebih parah lagi, Baskent, seorang teman dari Turki, memperoleh telepon dari polisi untuk mengambil mobilnya yang kedapatan menabrak pohon di jalan tol ;-) Beberapa kali juga ada kejadian pencurian &lt;em&gt;velg&lt;/em&gt; ban mobil yang diparkir di lapangan parkir apartemen. Tapi itu hanya terjadi waktu &lt;em&gt;summer&lt;/em&gt; saja, selebihnya kita aman-aman saja. Hal ini juga terjadi di provinsi sebelah, yaitu New Foundland. Suatu &lt;em&gt;summer&lt;/em&gt;, kami bepergian ke Nova Scotia guna bersilaturahmi ke teman yang kuliah di Delhausie University di Halifax serta mengunjungi museum kapal Titanic yang tenggelam di dekat situ. Di sana terdapat sisa-sisa kapal yang sangat terkenal itu. Ternyata kursi dan tangga di film Titanic itu memang persis sangat dengan yang sebenarnya. Selain itu juga terdapat makam ribuan korban tenggelamnya kapal terbesar abad lalu itu. Selanjutnya kami menuju ke taman kota guna menghirup udara segar setelah sebelumnya sempat &lt;em&gt;nunut&lt;/em&gt; mampir untuk membuang sesuatu, &lt;em&gt;you know - nature call&lt;/em&gt; :-) di sebuah kasino di kota tersebut. Sebelum masuk kasino, kami sempat ditanyai macam-macam oleh penjaga pintu, termasuk harus menunjukkan paspor kami untuk membuktikan bahwa kami sudah berusia lebih dari 16 tahun, he... he... :-P Meskipun hanya ke toilet, namun sempat kami mengamati suasana di dalam kasino, dan pikiran kami sama: "Mengapa kok yang main banyak orang-orang yang sudah tua renta ya?" Kembali ke taman kota tadi, ketika kami hendak pulang ke penginapan ternyata kami jumpai mobil sewaan kami dengan kaca samping di sisi pengemudi terlihat pecah dan pintu terbuka. Terlihat sebuah batu besar ada di bagian bawah kemudi. Setelah diperiksa, kami kehilangan beberapa barang: jaket tebal bergambar elang salju yang baru saya beli 2 hari sebelumnya dan beberapa pakaian yang baru dibeli teman-teman, serta beberapa barang lain. Polisi bersepeda yang kami lapori hanya mencatat pernyataan kami serta beberapa kesaksian orang-orang di sekitar TKP yang mengetahui kejadian tersebut. Kesimpulan yang diambil? Pelakunya adalah pendatang dari kota lain karena saat itu sedang ada festival Tattoo (tapi bukan tato, ini adalah festival musik yang selalu diadakan di sana setiap musim panas). Apa yang dapat dilakukan oleh polisi? Tak ada, hanya mencatat, &lt;em&gt;that's all&lt;/em&gt;. :-( Akhirnya kami harus ke kantor cabang persewaan mobil di Halifax untuk menukarkan mobil dengan yang masih utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{2000 @ canada}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-2239665924635885289?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/2239665924635885289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=2239665924635885289' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/2239665924635885289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/2239665924635885289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/11/patuh-pada-hukum.html' title='Patuh pada Hukum'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-5181863138658315576</id><published>2006-10-26T07:01:00.000+07:00</published><updated>2007-08-24T14:51:16.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Jangan Kemaruk</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.freeyourfeet.co.uk/contents/media/Mr.%20Greedy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" src="http://www.freeyourfeet.co.uk/contents/media/Mr.%20Greedy.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Jangan rakus. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngono yo ngono ning ojo ngono&lt;/span&gt;. Demikian nasihat yang sering disampaikan para orang bijak. Nasihat yang juga sangat bijak. Rakus merefer pada sesuatu yang diambil secara berlebihan sementara sebenarnya keperluannya tidak sebanyak itu; atau sementara orang lain yang memerlukan menjadi tidak kebagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I.&lt;br /&gt;Pada suatu hari, kami diundang untuk suatu acara tahunan di awal semester, yaitu pertemuan perkenalan antara para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;foreign student&lt;/span&gt; dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;host family&lt;/span&gt; mereka. Fredericton adalah kota kecil yang tidak banyak penduduknya. Penduduk asli kota tersebut hanya sekitar 60 ribu jiwa (kita baru menyadari penduduk di sini kelihatan banyak ketika semua orang berkumpul di tepi sungai Saint John di tengah malam pada perayaan pergantian tahun), sementara belasan ribu lainnya adalah mahasiswa yang datang dari berbagai penjuru Kanada bahkan dunia. Masyarakat Fredericton sangat menyadari pentingnya keberadaan mahasiswa yang menghidupkan kota mereka. Untuk mahasiswa asing, mereka memiliki program &lt;span style="font-style: italic;"&gt;host family&lt;/span&gt; di mana setiap beberapa mahasiswa di&lt;span style="font-style: italic;"&gt;assign&lt;/span&gt; satu keluarga yang kemudian bertugas untuk membantu para mahasiswa tadi dalam berbagai aspek kehidupan di kota ini, terutama yang berhubungan lintas budaya agar tidak terjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;culture shock&lt;/span&gt; ketika tinggal di sini. Biasanya kita diundang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dinner&lt;/span&gt; di rumah mereka, atau sesekali diajak ke tempat wisata, atau ikut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;gathering&lt;/span&gt; bersama seperti saat ini. Saya 2 kali dapat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;host family&lt;/span&gt; karena yang pertama sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai direktur sebuah panti jompo, sehingga kemudian diganti dengan keluarga yang pernah tinggal di Indonesia - sebagai ahli kimia batuan di tambang Busang yang konon memang banyak mengandung emas itu. Meskipun saya merasa mereka tidak menjalankan tugasnya dengan baik sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;host family&lt;/span&gt; karena hanya sesekali mengundang makan malam dan berpiknik (he.. he... maunya berapa kali :-) ), namun saya sangat mengapresiasi program tersebut karena telah menunjukkan keramahan masyarakat Kanada yang seringnya kita cap berperilaku individualistis - yang tidak ramah bahkan diskriminatif juga banyak sih tapi paling tidak ada sisi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;humanism&lt;/span&gt; yang masih tersisa - sesuai dengan pidato saya di acara program pelepasan mahasiswa asing yang telah lulus 2 tahun kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.&lt;br /&gt;Pada saat itu kami, ada 5 mahasiswa baru di UNB, diajak oleh seorang teman yang telah berada di situ lebih dahulu setahun. Setiba di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;venue&lt;/span&gt; dan mengobrol sedikit dengan koordinator panitia (yang nantinya menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;host family&lt;/span&gt; saya yang kedua), sambil menunggu acara dimulai kami mengambil makanan kecil berupa kue-kue yang ukurannya memang sangat kecil. Naluri "mahasiswa kost" kami muncul dengan membawa piring besar dan mengambil banyak-banyak berbagai macam penganan yang ada. Ketika kami akan mulai menyantapnya, teman tadi mengingatkan "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;You shouldn't do that&lt;/span&gt;". Itu sama sekali tidak sopan. Seharusnya mengambil satu dulu, baru mengambil makanan lagi ketika semua orang sudah kebagian. Jangan kemaruk. Ketika saya perhatikan, memang setiap orang hanya membawa 1 penganan saja. Wah jadi malu nih, kami jadi kayak orang kelaparan saja. Rupanya itu budaya di sini, memberikan kesempatan pada orang lain ketika kesempatan mereka sudah terpenuhi, tidak mengambil semuanya untuk diri sendiri &lt;a href="#*"&gt;(*)&lt;/a&gt;. Lha, ini kan sangat berbeda dengan bayangan saya sebelumnya mengenai masyarakat barat. Tapi kemudian saya menyadari itu adalah fitrahnya manusia sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;social animals&lt;/span&gt;. Pengalaman lain yang membuat saya kagum adalah rupanya mereka juga orang yang sabar. Ketika suatu kali kami sedang menuju &lt;span style="font-style: italic;"&gt;downtown&lt;/span&gt;, kendaraan kami terhenti oleh antrian mobil yang disebabkan oleh sebuah mobil yang berhenti ketika ada teman pengemudi menyapa dari tepi jalan dan mengajaknya mengobrol, sementara jalan terlalu sempit bagi kendaraan lain untuk mendahului mobil tersebut. Semenit, dua menit, tiga menit, tidak ada suara klakson sama sekali. Heran..... kalau di tempat kita biasanya sudah banyak kebun binatang yang keluar dari pengendara di belakangnya. Kamipun menekan diri serta mengurungkan niat untuk membunyikan klakson. Tak sampai 5 menit akhirnya mobil tersebut kembali melaju dan antrian berangsur menghilang. Dan semua orang berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III.&lt;br /&gt;Salah satu kegiatan dalam program &lt;span style="font-style: italic;"&gt;host family&lt;/span&gt; yang selalu ditunggu-tunggu oleh penggemar adalah pembagian pakaian gratis. Pada setiap awal tahun ajaran, terutama menjelang musim dingin, mahasiswa peserta program tersebut disilakan untuk datang dan mengambil pakaian gratis yang disediakan oleh panitia, hasil donasi dari penduduk di Fredericton. Definisi pakaian di sini termasuk: baju, celana (kalau membeli celana di sini, saya harus ke stan pakaian remaja karena kalau ukuran dewasa meskipun panjangnya cocok tapi selalunya pinggangnya pastilah kegedhean :-) Orang-orang sini memang tidak terlalu memandang penting penampilan terutama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;get in shape&lt;/span&gt;, terbukti dengan banyak dari mereka yang cuwek saja makan banyak-banyak meskipun tubuh mereka sudah sangat gemuk tanpa ada upaya sama sekali untuk berdiet), jaket musim dingin, sweater, topi musim dingin yang menutupi telinga (tahukah anda kalau telinga kita lebih cepat menjadi dingin dibanding bagian tubuh lain, dan karena tersusun dari tulang rawan maka kalau kena udara terlalu dingin, maka telinga kita akan mudah membeku dan mudah patah jika mengalami benturan), sepatu boot untuk jalan di salju (teman saya memperoleh sepatu untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ice skating&lt;/span&gt;, beruntung dia), dan lain-lain. Minggu pagi itu kami berangkat berenam untuk mengambil pakaian gratis di tempat yang telah ditentukan. Tiba di sana banyak terlihat meja dengan tumpukan pakaian di atasanya. Kita tinggal memilih-milih mana yang cocok dan disuka, boleh diambil tanpa harus bayar. Gratis tis ;-) Teringat akan teguran kawan kami di atas, maka kamipun dengan sopannya memilih jaket dan baju yang cocok dengan ukuran serta selera kami. Ada jaket yang bagus sudah kepegang tapi kok di sebelah sana ada yang lebih bagus ya; akhirnya saya batal mengambil dan mencoba yang lain lagi, hingga menemukan yang cocok. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh serombongan mahasiswa Korea yang juga datang untuk mengambil pakaian. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh no&lt;/span&gt;! Lihat, mereka membawa tas plastik yang sangat besar yang biasanya digunakan untuk membuang sampah!! Dan mereka serta merta meraup pakaian yang ada di meja lantas memasukkannya banyak-banyak ke dalam tas mereka!!! Tapi.... teman saya yang menegur kami dulu tak ada di sini. Panitia yang ada di situ juga tak kelihatan berusaha untuk mencegah "penjarahan" tersebut. Tak ada yang berteriak: "Jangan kemaruk!" pada mereka. Sungguh kami terkaget-kaget dengan merasakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;culture shock&lt;/span&gt; untuk ke sekian kalinya. Jadi kesimpulannya: di sini boleh kemaruk atau tidak? Sepertinya tak ada waktu untuk memikirkannya. Jadi kami tetap pada prinsip semula: jangan kemaruk, meski melihat orang lain kemaruk, jangan tergoda (saya sering berseloroh: saya ini taat prinsip, sayangnya prinsip saya sering berubah-ubah. He... he... &lt;span style="font-style: italic;"&gt;just joking&lt;/span&gt;). Akhirnya kamipun buru-buru mengambil jaket yang kami rasa paling cocok dan beruntunglah kami masih dapat sisa-sisa pakaian yang sempat kami selamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV.&lt;br /&gt;Yang terakhir ini sebetulnya dalam mode "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;off the record&lt;/span&gt;". Ternyata kami kalah melawan godaan, hingga pada tahun berikutnya, dalam acara yang sama, pagi-pagi sekali kami berangkat sambil membawa tas besar (tak sebesar yang dibawa mereka sih), dan dengan bergas mengambili berbagai jaket dan baju. Alhasil, ketika kembali ke apartemen. Saya dapati hanya satu-dua pakaian yang cocok dengan ukuran dan selera saya, hingga banyak pakaian tersebut yang kemudian hanya menumpuk di gudang dan akhirnya dibuang ketika saya akan kembali ke negeri tercinta. Saya sangat menyesalinya :-( . Please, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;don't be greedy&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{1999 @ canada}&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;a name="*"&gt;&lt;/a&gt;(*) Belakangan saya mendapatkan hadist yang kiranya erat berhubungan dengan kejadian itu, yaitu: "Jangan mengambil terlalu banyak bila makan bersama orang lain, kecuali jika atas izin kawan dalam jamuan itu". (HR. Al Bukhari, Muslim). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-5181863138658315576?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/5181863138658315576/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=5181863138658315576' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5181863138658315576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5181863138658315576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/10/jangan-kemaruk.html' title='Jangan Kemaruk'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-1076802295223202156</id><published>2006-10-15T06:34:00.000+07:00</published><updated>2007-01-30T20:49:37.086+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Ramadhan @ Canada</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.freelists.org/archives/imran_dist/10-2002/jpg00000.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 240px; height: 319px;" src="http://www.freelists.org/archives/imran_dist/10-2002/jpg00000.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Ramadhan di negeri orang, selalu menjadi topik yang menarik bagi kita; terutama di negara di mana seorang muslim adalah minoritas. Berikut beberapa kejadian yang saya alami pada saat menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan di Kanada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama bulan Ramadhan, mahasiswa Indonesia di sini biasa berkumpul untuk berbuka puasa bersama; dan seperti biasanya pula, tempat kumpulnya adalah di apartemen kami. Buka bersama bukan hanya diikuti oleh mahasiswa dan keluarganya yang muslim, tetapi juga yang non muslim karena itu adalah kesempatan untuk bertemu dengan semua orang Indonesia di Fredericton. Pada hari tersebut, siang harinya kami bersiap untuk menghidangkan santapan untuk berbuka dan makan malam. Biasanya saya ketiban jatah untuk membuat tempura; dengan bahan dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;carrot &lt;/span&gt;dan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; spinach&lt;/span&gt;. Pada hari terakhir ramadhan tahun 1998, acara yang dilakukan adalah makan malam bersama, bukan buka bersama. Saat itu saya masih berada di tempat kost seorang teman yang berada di King College Road, tak jauh dari apartemen kami. Selepas berbuka seperlunya dan sholat maghrib, kami menuju Magee House. Bulan Ramadhan ini tepat di pertengahan musim dingin. Timbunan salju banyak menumpuk di tepi jalan. Kami berjalan di bawah rintikan salju yang turun dari langit lembut mengenai jaket tebal yang kami kenakan. Meskipun jarak antara King College Rd dan Magee House tak jauh, kami memilih untuk berjalan memutar melalui Regent Street. Kami bersepakat untuk bertakbir berdua di sepanjang jalan. Suara takbir kami berdua - tak begitu keras karena terpaan angin dingin yang membawa butiran salju masuk ke dalam mulut - menggema ditelan sepinya malam di jalan yang kami lalui. Mungkin tak ada yang mendengar kami. Tetapi, pepohonan dan semak-semak yang tertutup lapisan salju memutih di sepanjang Kings College Rd, Regent St, dan Montgomery St terasakan ikut bergerak diselingi suara angin yang lalu, menyambut suara takbir yang mungkin belum pernah mereka dengarkan sebelumnya di sana. Menunjukkan rasa kehilangan yang akan kami alami karena hari ini adalah hari terakhir bulan Ramadhan tahun itu di Fredericton. Sungguh, getaran suara itu, akan selalu terngiang di telinga tatkala saya teringat akan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menjelang pergantian tahun, masih dalam bulan Ramadhan juga, kami berbanyak pergi ke Prince Edward Island, provinsi terkecil di Kanada, berupa sebuah pulau di Teluk Saint Lawrence yang berbatasan dengan Samudera Atlantic dan merupakan pulau terbesar nomor 104 di dunia! ;-). Penduduk provinsi di sebelah timur New Brunswick ini kurang dari 150 ribu jiwa namun pendapatan perkapita tahun ini mencapai hampir 300 juta rupiah. Pulau ini menjadi terkenal - terutama di Jepang, terbukti dengan banyaknya wisatawan Jepang ke sana - karena Lucy Maud Montgomery menulis sebuah novel klasik yang berjudul &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Anne_of_Green_Gables"&gt;Anne of Green Gable&lt;/a&gt; dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;setting&lt;/span&gt; pulau tersebut. Kunjungan ke kediaman sebuah keluarga Canada-Solo yang tinggal di sana adalah merupakan tradisi bagi mahasiswa Indonesia yang berada di Fredericton. Untuk mencapai Charlottetown kami melewati Confederation Bridge, sebuah jembatan sepanjang hampir 13 km yang menghubungkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mainland&lt;/span&gt; dengan pulau tersebut. Asyik juga melalui jembatan tersebut di mana sepanjang mata memandang di sekeliling terlihat lautan yang biru gelap membeku. Penduduk pulau tersebut banyak yang merupakan keturunan Scottish dan Irish, yang terkenal dengan alat musik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;fiddle&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tap dance&lt;/span&gt;, dan peminum bir. Pada pergantian tahun, gubernur menyelenggarakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;open house&lt;/span&gt;, kami semua hadir untuk melihat keunikan budaya Celtic di sini. Tersedia banyak makanan; namun beberapa dari kami yang muslim tidak dapat menikmatinya karena hari masih belum terlalu sore - kami masih berpuasa. Jadi, ketika orang-orang makan dengan lahap, kami hanya melihat-lihat saja, hingga orang-orang bertanya-tanya. Dengan lugas kami menjelaskan arti bulan Ramadhan dan mereka antusias sekali mendengarkannya. Saat itu, kami sering-sering menilik jam tangan; tatkala sudah menjelang waktu maghrib, kamipun bergegas mengambil piring dan mulai mengoleksi makanan - seperti biasanya kami ambil hidangan untuk vegetarian atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;seafood&lt;/span&gt; untuk amannya. Dan saat berbuka puasapun tiba. Kami saling memberi kode dan mulailah kami menyantap setumpuk makanan di piring besar. Orang-orangpun kembali bertanya-tanya. Lho, katanya tadi puasa, kok sekarang makan. Maka, kemudian kami menjelaskan kembali bahwa sekarang sudah saatnya berbuka sehingga boleh makan. Mereka terlihat antusias lagi mendengarkannya. Kali ini, mereka yang mengalami &lt;span style="font-style: italic;"&gt;culture shock&lt;/span&gt; ya ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buka puasa bersama dengan para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;moslem brothers&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sisters&lt;/span&gt; dari negara lain merupakan pengalaman yang mengesankan di sini. Setiap Sabtu, FIA (Fredericton Islamic Association) mengadakan buka puasa bersama dengan model &lt;span style="font-style: italic;"&gt;potluck&lt;/span&gt;, setiap keluarga membawa makanan untuk dimakan bersama. Biasanya, untuk mahasiswa yang tidak datang dengan keluarga, cukup membawa minuman atau makanan ringan. Tempatnya berpindah-pindah, namun masih di lingkungan kampus UNB. Saat itulah kesempatan untuk menikmati hidangan dari berbagai negara, terutama yang mayoritas penduduknya muslim. Hal yang menguntungkan adalah: saya termasuk orang yang omnivora; rentang akseptabilitas rasa dan selera perut saya ini sangat lebar, sehingga saya bisa mencicip segala macam makanan yang tersedia tanpa terlalu pilih-pilih. Hal yang tidak menguntungkan: volume perut saya termasuk kecil, sehingga tidak bisa makan terlalu banyak- jika dipaksa maka akan mendesak diafragma dan terasa menyesakkan dada. BTW, dengan demikian di acara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;potluck &lt;/span&gt;tersebut saya makan tidak terlalu banyak dalam kuantitas namun banyak dalam variasinya. Alhasil, seringkali nasi jadi lauk dan lauk jadi makanan pokok ;-) Di saat lain, mahasiswa yang bersendirian di sini seringkali diundang oleh keluarga-keluarga muslim untuk berbuka puasa di rumah mereka. Pokoknya kelarisan dah ;-) Termasuk keluarga dari Maroko yang mengundang saya dan teman saya dari ITS untuk berbuka dengan beberapa mahasiswa dari negara lain. Kamipun berangkatlah ke rumahnya. Tersedia hidangan sangat banyak di meja makan. Saat buka puasa tiba, setelah makanan ringan sekadarnya serta sholat maghrib berjamaah, tibalah saat untuk makanan besar. Kok ya piring yang tersedia besar banget, kayak nampan aja ukurannya. Ya sudah, saya ambil nasi dan lauk hingga separuh piring tak sampai. Ini sudah banyak, pikir saya sambil melihat teman-teman lain mengambil makanan sepiring penuh bahkan sampai menggunung memenuhi tepinya. Tuan rumah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bola-bali&lt;/span&gt; meminta saya untuk mengambil lebih. Dikiranya saya malu-malu untuk makan banyak-banyak. Tak lah. Ini sudah cukup mengenyangkan saya, sambil menyantap dan mengobrol bersama mereka. Habis sepiring, eh ternyata mereka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;go for the second round&lt;/span&gt;!!! Segunung lagi. Ya ampun, ini sih balas dendam ;-) Saya tidak tergoda untuk mengikuti mereka, namun masih cukuplah tersisa ruangan untuk hidangan penutup berupa buah, hingga kemudian saya tergolek kepenuhan di sofa melihat ganasnya mereka menghabiskan hidangan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{2000 @ canada}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-1076802295223202156?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/1076802295223202156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=1076802295223202156' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/1076802295223202156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/1076802295223202156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/10/ramadhan-canada.html' title='Ramadhan @ Canada'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-5024854128999189210</id><published>2006-10-11T02:57:00.000+07:00</published><updated>2007-01-30T21:03:31.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Disangka Orang Asing</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.thevlt.com/Past_Productions/Foreigner/foreigner.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 206px; height: 285px;" src="http://www.thevlt.com/Past_Productions/Foreigner/foreigner.gif" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah menjadi nasib saya sering disangka bukan orang Indonesia. Dari nama saya saja, orang sering salah sangka andai belum pernah bertemu langsung dengan saya. Suatu kali di &lt;a href="http://www.unb.ca/"&gt;University of New Brunswick&lt;/a&gt;, saya ditunjuk menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;graduate teaching assistant&lt;/span&gt; Prof. Sousa untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Heat Transfer Lab &lt;/span&gt;(selama di sana, saya menjadi asisten 5 profesor yang berbeda) bersama dengan Jason, seorang mahasiswa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;graduate&lt;/span&gt; asli Kanada. Berhubung kami berdua belum pernah bertemu, kami saling mengirim email dan bersepakat untuk bertemu di depan kelas saat kuliah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Heat Transfer&lt;/span&gt;. Oke. Pada masa yang telah ditentukan, saya berdiri di depan pintu kelas, melihat mahasiswa yang memasuki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lecture hall&lt;/span&gt; untuk kuliah. Yang mana ya orang itu, pikir saya; bingung karena kebanyakan mahasiswanya berkulit putih sehingga saya tidak dapat mengira-ira yang mana teman saya tersebut. Setelah hampir semua orang masuk kelas, terlihat seseorang yang berdiri bersandar di pintu kelas, sedari tadi dia menatap ke arah datangnya massa. Ini dia orangnya, tebak saya. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Are you Jason?&lt;/span&gt;". Dia menatap saya lalu mengangguk, mimik mukanya terlihat bingung dan ragu. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Are you Achmed?&lt;/span&gt;". Demikian saya biasa dipanggil di sana. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yes I am&lt;/span&gt;", jawab saya mantap sambil mengulurkan tangan. Dia menjabat tangan saya sambil tersenyum dan berkata "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I was expecting an arabic guy&lt;/span&gt;". Tentu saja, dia mengira orang yang akan ditemuinya adalah orang Arab, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;that's because of my name&lt;/span&gt; :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kesempatan lain, saya berada di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;graduate computer room&lt;/span&gt; lantai 2 Head Hall, membaca email di komputer DEC dengan sistem operasi Unix sambil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;browsing&lt;/span&gt; membaca berita dari Indonesia. Setiap hari belasan surat kabar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;online&lt;/span&gt; Indonesia kami lahap, begitu laparnya kami akan kabar dari tanah air dan betapa rindunya kami akan ibu pertiwi. Sedang asyiknya membaca berita, tiba-tiba saja dari sebelah saya, Jeff Wong, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;graduate student&lt;/span&gt; yang berasal dari Hongkong tertawa keras sekali dan berteriak ke saya dengan bahasa yang saya sama sekali tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dhong&lt;/span&gt;, sambil menunjuk-nunjuk layar monitornya yang berisi tampilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;webmail&lt;/span&gt;. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;I don't get it&lt;/span&gt;", kata saya ketika dia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;insist &lt;/span&gt;menyuruh saya membaca emailnya sambil terus tertawa-tawa. Apa yang saya lihat di sana hanyalah gambar huruf cina (bukan tulisan, saya selalu menganggap aksara cina adalah gambar, karena diturunkan dari gambaran benda yang diwakilinya, bukan fonem. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Isn't it&lt;/span&gt;?). Bagian mana yang lucu, pikir saya sambil mencari gambar atau celah-celah lain yang dapat memicu syaraf tertawa saya. Jeff tertawa dan tertawa, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;this email is just very funny&lt;/span&gt;", namun makin lama makin berubah jadi tawa kebingungan ketika melihat saya tak kunjung tertawa juga. Lalu dia bertanya: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Can you speak in chinese?&lt;/span&gt;". Saya menggelengkan kepala saya. Dia bertanya lagi: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Which province are you from&lt;/span&gt;". Dengan santainya saya jawab: "Daerah Istimewa Yogyakarta". Mendengar itu dia kebingungan mencoba merekover pengetahuan geografinya: di mana kira-kira letak provinsi ini. Rupanya dia mengira saya berasal dari daratan China. Wah, kalau begitu, sampai kapanpun gak bakalan nemuin yang namanya provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di sana ;-) Setelah itu, lebih dari belasan kali orang menyangka saya berasal dari daratan China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kedatangan saya ke Malaysia, saya selalu menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi dengan para &lt;span style="font-style: italic;"&gt;student&lt;/span&gt; di kelas atau di lab. Dalam tugas saya sebagai tutor maupun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;lab demonstrator&lt;/span&gt;, saya memang tidak pernah banyak berbicara dengan lantang di depan kelas dengan dipandangi oleh semua mahasiswa. Sori saya bukan tipe seperti itu ;-) Saya mencoba menerapkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Student Centered Learning&lt;/span&gt; yang akhir-akhir ini saya dalami dengan teman-teman di tim pengembangan pembelajaran di UGM. Mahasiswa tidak disuapi dengan ilmu tetapi biarkan mereka mengkonstruksi sendiri ilmu yang mereka pelajari, kita hanya memfasilitasi mereka agar dapat belajar dengan baik dan memberikan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;temporary assistantship&lt;/span&gt; seperlunya. Jadi di kelas dan lab biasanya mereka diminta mencoba mengerjakan sendiri tugas mereka, lalu saya akan membantu menjelaskan jika ada pertanyaan. Jadi komunikasinya lebih bersifat individual atau dalam kelompok kecil. Suatu kali, Faizah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;technician&lt;/span&gt; di Lab Elektronika Analog bertanya pada saya: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Where are you from?&lt;/span&gt;". Saya jawab kalau saya berasal dari Indonesia (kebanyakan setelah itu, pertanyaan yang diajukan adalah dari kota mana saya berasal. Dan ketika saya jawab bahwa saya berasal dari Yogyakarta, mereka kemudian berkata: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh, the one with earthquake!&lt;/span&gt;", lalu saya menjelaskan kejadian yang kami alami di bulan Mei lalu itu). Dia mengatakan kalau para mahasiswa menyangka saya berasal dari Myanmar, karena tidak pernah menggunakan bahasa Melayu maupun Indonesia di kelas. Saya tidak tahu apakah wajah saya memang mirip orang Myanmar atau tidak, tetapi suatu kali saya bertemu dengan orang Myanmar, saya ajak dia bercakap dalam bahasa Jawa karena wajahnya mirip sekali dengan orang Jawa. Tentu saja dia kebingungan :-D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya mau apa, saya memang selalu menggunakan bahasa Inggris di kelas. Pertama, karena di kelas saya yang mahasiswanya lebih dari 150 orang itu, tidak semuanya berasal dari Malaysia; banyak juga yang berasal dari negara lain seperti Iran, Sudan, India, Pakistan, Vietnam, dan lain-lain. Jadi saya tak boleh menggunakan bahasa Indonesia meskipun kebanyakan mahasiswa Malaysia memahaminya. Kedua, beberapa kata dalam bahasa Indonesia ternyata memiliki arti yang sangat berbeda dalam bahasa Melayu. Bahkan banyak kata dalam bahasa Indonesia yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;backhome&lt;/span&gt;, ternyata kata tersebut sangat tidak sopan untuk diucapkan di sini. Parahnya, makin berusaha untuk tidak mengucapkan kata-kata tersebut, makin sering keluar dari mulut kita, sehingga seringkali kemudian kita menyadarinya - atau ada teman yang mengingatkannya - dan kita hanya bisa ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;oooops&lt;/span&gt; saja sambil menutup mulut dengan tangan. Akhirnya asal saya ketahuan juga ketika suatu saat saya sedang memesan makanan di kantin desasiswa V5, tempat saya tinggal di UTP. Saya memang suka makan di kantin ini karena kokinya berasal dari Jawa Timur, jadi nasi gorengnya sangat cocok di lidah saya. "Saya pesan nasi goreng ayam satu", kata saya. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara: "Aaa, dari Indonesia ya". Ternyata di belakang saya banyak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;student&lt;/span&gt; saya yang beratur (antri) untuk memesan makanan di kantin tersebut. Sejak itu, saya sering menggunakan kata-kata dalam bahasa Melayu ketika memberikan penjelasan kepada mahasiswa tempatan (lokal), meskipun secara umum saya masih lebih nyaman menggunakan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{2006 @ tronoh.malaysia}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-5024854128999189210?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/5024854128999189210/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=5024854128999189210' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5024854128999189210'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5024854128999189210'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/10/disangka-orang-asing.html' title='Disangka Orang Asing'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-906954432274508779</id><published>2006-10-01T18:03:00.000+07:00</published><updated>2007-01-30T21:44:36.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Dwi Bahasa</title><content type='html'>&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.epocware.com/screenshots/slovoed_7650/french-english_UltraLingua_2.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" src="http://www.epocware.com/screenshots/slovoed_7650/french-english_UltraLingua_2.gif" /&gt;&lt;/a&gt;Bahasa menunjukkan kepribadian bangsa, dan sebagai anak bangsa yang bangga terhadap bangsanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;I'm trying hard to use Bahasa as good as possible&lt;/span&gt; (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;are you kidding&lt;/span&gt; ;-) he..he...he....). Namun, saat berada di tempat yang berbahasa asing, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;you have to use their language, right? I guess so&lt;/span&gt;. Karena itu, saya selalu mencoba mempelajari bahasa di tempat saya tinggal. Saint Thomas University membuka program &lt;span style="font-style: italic;"&gt;summer class&lt;/span&gt; kursus bahasa Inggris bagi mahasiswa asing. Pesertanya berasal dari berbagai negara di benua Asia, Afrika, Amerika Selatan, dan Eropa. Seperti diketahui, orang-orang dari Eropa berkulit sama dengan orang Amerika Utara: mereka juga bule. Di Yogya, kami biasa menyebut mereka Londo; jadi ada Londo Inggris, Londo Jerman, Londo Perancis, Londo Belanda, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;etc&lt;/span&gt;. Di kursus bahasa Inggris tersebut, juga banyak peserta londo-londo tersebut; dan ketika kita mencoba bercakap dengan mereka, bayangkan apa yang terjadi. Betapa aneh rasanya melihat seorang bule terbata-bata mencoba berbahasa Inggris!!! :-) Hal ini karena kita berpikiran bahwa setiap bule selalu mahir menggunakan bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;New Brunswick merupakan provinsi yang memiliki &lt;span style="font-style: italic;"&gt;official language&lt;/span&gt; dwi bahasa: bahasa Inggris dan bahasa Perancis (sebenarnya pemerintah Federal Canada memiliki bahasa resmi dalam &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Canada#Language"&gt;dwi bahasa tersebut sejak 1969&lt;/a&gt; - di antara bahasa-bahasa lain di sana: Dene Suline, Cree, Dogrib, Gwich’in and Slavey -, namun hanya Provinsi NB yang mencantumkannya secara eksplisit dalam konstitusi mereka). Hal ini berarti setiap dokumen resmi harus ditulis dalam kedua bahasa tersebut. Setiap surat yang berhubungan dengan pemerintahan atau administrasi ditulis dalam 2 bahasa ini, termasuk laporan pemerintah, kartu nama, KTP (kami sering menyebutnya kartu dosa karena disingkat kartu SIN, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;security identification number&lt;/span&gt;), buku petunjuk pariwisata, borang isian, dan lain-lain; bahkan juga papan tanda lalu lintas. Kadang ditulis dalam 1 halaman, sebelah kiri untuk bahasa Inggris, sebelah kanan untuk bahasa Perancis; atau sebelah atas bahasa Inggris, bawah Perancis. Kadang sebuah buku jika dibaca dari depan tertulis dalam bahasa Inggris, lalu jika dibalik dibaca dari belakang maka tertulis dalam bahasa Perancis. Bayangkan (lagi), betapa borosnya biaya pembuatan buku, borang, dan kartu tersebut karena jumlah halamannya akan menjadi 2 kali lipat daripada jika menggunakan hanya 1 bahasa. Oleh karena itu, pemerintah provinsi berencana untuk menetapkan salah satu bahasa tersebut sebagai bahasa resmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Menurut &lt;a href="http://www.linksnorth.com/canada-history/"&gt;catatan sejarah&lt;/a&gt;, Canada ditemukan pada akhir milenia pertama oleh orang Viking, yaitu Norse dan Leif Ericson. Namun dalam perkembangannya, Inggris dan Perancis berival menguasai Canada. Bagian barat Canada lebih banyak memiliki pengaruh Inggris, terlihat dari nama salah satu provinsinya adalah British Columbia. Perancis lebih banyak memiliki pengaruh di Quebec, sebuah provinsi yang berusaha untuk memisahkan diri dari Canada pada dekade-dekade akhir abad lalu. Sementara provinsi-provinsi Atlantic dipengaruhi oleh keduanya, namun kayaknya pengaruh Inggris sekarang lebih besar. Jadi tinggal Quebec sekarang. Pada 1974, bahasa Perancis menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;official language&lt;/span&gt; di sana dan sempat pengajaran di sekolah menggunakan bahasa Inggris sangat dibatasi meskipun kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Agung.Keinginan untuk memiliki negara sendiri yang berbahasa Perancis dipupuskan oleh kekalahan dalam referendum 1995. Yang menarik adalah, penduduk Quebec yang setiap harinya berbahasa Perancis sebenarnya dapat menggunakan bahasa Inggris. Namun, kalau anda seorang bule/londo ;-) jangan harap mereka akan melayani kalau anda menggunakan bahasa Inggris. Tetapi kalau anda seorang yang kulitnya berwarna (dari Asia, Afrika, dsb), anda akan tetap dilayani meskipun menggunakan bahasa Inggris!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Hampir separuh penduduk New Brunswick berbahasa Inggris, kurang lebih seperempat berbahasa Perancis, dan seperempat lain bilingual Inggris dan Perancis. Uniknya di bagian tenggara negara bagian ini, penduduknya sering mencampuradukkan penggunaan bahasa Perancis dan Inggris sehingga muncul bahasa campuran yaitu Franglais. Mereka mengkombinasikan penggunaan subyek, predikat, obyek, dan kata keterangan dalam bahasa Inggris dan bahasa Perancis. Contoh kalimat dalam bahasa Franglais adalah: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;J'vas driver downtown&lt;/span&gt; yang berarti saya akan berkendara ke pusat kota; atau &lt;i&gt;Je suis tired&lt;/i&gt; yang berarti saya lelah. Contoh yang lebih panjang ada dalam karya Robert Surtees 'Jorrocks Jaunts and Jollities': &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"You shall manger cinque fois every day," said she; "cinque fois," she repeated.--"Humph!" said Mr. Jorrocks to himself, "what can that mean?--cank four--four times five's twenty--eat twenty times a day--not possible!" "Oui, Monsieur, cinque fois," repeated the Countess, telling the number off on her fingers--"Café at nine of the matin, déjeuner à la fourchette at onze o'clock, diner at cinque heure, café at six hour, and souper at neuf hour."&lt;/span&gt; Apa tidak membingungkan lawan bicara yang berasal dari luar ya? Yen saya sih, gak pernah nyampur-nyampurno penggunaan bahasa kalau ngomong, bikin bingung wae. ;-) &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;&lt;br /&gt;{1999 @ fredericton}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-906954432274508779?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/906954432274508779/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=906954432274508779' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/906954432274508779'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/906954432274508779'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/10/dwi-bahasa.html' title='Dwi Bahasa'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-8417782074374834810</id><published>2006-09-27T20:54:00.000+07:00</published><updated>2006-10-16T23:54:36.962+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Random Checking</title><content type='html'>&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" src="http://msnbcmedia.msn.com/j/msnbc/Components/Video/050725/nn_frat_profiling_050725.300w.jpg" /&gt;Hari sebelumnya, dalam perjalanan dari Jakarta ke Hongkong, di pesawat, saya duduk bersama seorang pengusaha Indonesia yang memiliki usaha di Hongkong. Cerita punya cerita, ternyata beliau tinggal dekat dengan rumah saya di Pakualaman Yogyakarta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Most probably my parents may know him as well&lt;/span&gt;. Dia banyak bercerita mengenai kehidupan di Hongkong. Ketika pesawat mendarat di Hongkong International Airport (a.k.a. Chek Lap Kok Airport), kami berpisah setelah naik &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shuttle train&lt;/span&gt; berkecepatan sangat tinggi yang mengantarkan penumpang yang turun dari pesawat ke terminal penumpang dan sebaliknya. Sepeninggal beliau, di terminal bandara sendiri, saya celingukan mencari jemputan yang telah dijanjikan pihak hotel. Bertanya pada petugas bandara, kebanyakan tidak dapat berbahasa Inggris, kalaupun ada yang bisa, saya tidak dapat menangkap perkataannya dengan baik; mungkin karena menggunakan bahasa Honglish ;-). Melihat orang kebingungan, 2 orang polisi mendatangi saya dan meminta paspor saya sembari menanyakan tujuan saya. Tak memperhatikan jawaban saya, mereka lebih tertarik dengan apa yang tertulis di paspor dinas saya: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;This passport is valid for all parts of the world except: Israel &amp; Taiwan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;". "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Why are you not allowed to go to Taiwan?&lt;/span&gt;", tanya salah satu dari mereka&lt;/span&gt;. Saya hanya menjawab kalau itu kebijakan pemerintah. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;What kind of officer are you?&lt;/span&gt;", tanya mereka lagi. Saya menjelaskan bahwa saya dari departemen pendidikan. Pertanyaan yang sama saya peroleh ketika dicegat lagi oleh 2 polisi yang lain ketika hendak naik bus hotel. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;No, problem&lt;/span&gt;, hari itu saya habiskan untuk berjalan-jalan (benar-benar jalan kaki) di pusat kota Hongkong yang penuh dengan tulisan cina sehingga saya kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu, saya sudah berada di bandara HKIA lagi. Sembari menunggu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;check in&lt;/span&gt;, saya melihat-lihat berbagai pojok terminal penumpang, mencoba mencari keunikan yang ada di sini. Rupanya, tingkah saya menarik perhatian 2 orang polisi bandara lagi. Mereka datang dan meminta saya untuk menunjukkan paspor saya lagi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Again&lt;/span&gt;, saya musti menjelaskan apa maksud &lt;span style="font-style: italic;"&gt;service passport&lt;/span&gt; saya tersebut. Di terminal itu, saya 2 kali lagi didatangi dan ditanyai oleh pasangan polisi yang selalu memberi hormat sebelum menyapa. Akhirnya datang juga saat check in. Saya pindah ke ruang tunggu Cathay Pacific untuk menanti saat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;boarding&lt;/span&gt;. Beberapa saat kemudian, saya antri untuk menuju lorong menuju pesawat. Penumpang sangat ramai hari itu, sehingga antrian agak lambat berjalan. Saya tengak-tengok lagi, dan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;again!!!&lt;/span&gt;, pasangan polisi pria dan wanita mendatangi saya seraya memberi hormat. Saya langsung memberikan paspor yang sudah saya persiapkan- saya sudah tahu bakal kena lagi nih. Akhirnya saya tanyakan ke mereka mengapa memeriksa saya. "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Just random checking sir&lt;/span&gt;", jawab mereka dengan lugas. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Random checking&lt;/span&gt; apanya. Random kok kenanya saya terus ;-) Kalau pemenang sayembara yang dipilih secara random, saya tidak pernah dapat; eh giliran untuk diperiksa, kok saya kena terus ;-). Belakangan saya paham mengapa saya didatangi terus oleh para polisi bandara. Dari wajah saya, mungkin mereka mengira saya berasal China daratan, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;you know&lt;/span&gt;, orang Hongkong dan orang China daratan rupanya saling tidak menyukai satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{1998 @ hongkong}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-8417782074374834810?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/8417782074374834810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=8417782074374834810' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/8417782074374834810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/8417782074374834810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/09/random-checking.html' title='Random Checking'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-5445533687738443728</id><published>2006-09-24T00:30:00.000+07:00</published><updated>2006-12-22T14:32:14.401+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Subuh 2 Kali</title><content type='html'>&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px" src="http://www.eucck.org/procurement/airline/img/cathay_pacific_img.gif" /&gt;Senin, 28 Agustus, perjalanan pulang dari Kanada ke Indonesia diperkirakan mencapai 2 hari (30 jam). Hal ini berbeda dengan perjalanan saya saat berangkat dari Indonesia ke Kanada yang mencapai lebih dari 40 jam. Namun, perjalanan pulang ditempuh tanpa menginap, sedangkan pada perjalanan berangkat saya sempat menginap di Hongkong dan Toronto, masing-masing semalam. Setelah berpisah dengan teman-teman yang mengantar di Bandara Fredericton dan harus mengatur ulang isi tas kabin karena &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;overloaded&lt;/span&gt; sementara pihak security bandara sangat ketat sekali dalam menerapkan batasan barang bawaan penumpang, saya melenggang masuk ke pesawat. &lt;em&gt;Goodbye Fredericton, I'll be missing you&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada cerita yang menarik dalam perjalanan menuju Toronto, dengan pesawat kecil, jarak antar kursi yang sangat sempit bahkan bagi saya, bagaimana pula bagi bule-bule yang tinggi-tinggi itu ya? Di Toronto kami sempat transit selama lebih dari 6 jam dan bersiap untuk perjalanan ke Hongkong. Pesawat Cathay Pacific berangkat dari Toronto sebelum tengah malam, berhenti sekali lagi di Anchorage Alaska selama sekitar 2 jam. Di dalam pesawat, di muka setiap tempat duduk, terdapat panel televisi yang menampilkan beberapa &lt;em&gt;channel&lt;/em&gt; acara kartun, lawak, olah raga, film, dan musik. Saya memilih menonton &lt;em&gt;channel&lt;/em&gt; yang memutar Mr Bean; tak pernah bosan meski telah berkali-kali melihatnya. Di panel tersebut terdapat pula informasi posisi pesawat serta jam; baik jam dari lokasi pemberangkatan, tempat tujuan, serta jam di lokasi pesawat sedang berada (posisi daratan di bawahnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hari telah hampir pagi, dan sudah memasuki waktu subuh, maka saya segera sholat subuh di kursi pesawat. Seusai itu, saya kembali menekuni panel televisi sambil melihat jam yang menunjukkan waktu lokal. Terlihat sesuatu yang aneh pada jam tersebut. Setelah saya perhatikan, ternyata jam lokal - yang menunjukkan waktu lokasi daratan di bawah pesawat pada saat itu - berkurang satu jam demi satu jam. Mulai jam 5, 4, 3, 2, ... mmmm sangat menarik. Jam berbalik mundur! Ini terjadi karena kecepatan pesawat sedemikian pesat sehingga melebihi kecepatan rotasi bumi yang berputar dari barat ke timur. Selanjutnya ... 1, 12, 11. Jam berbalik mundur melewati hari sebelumnya...!!! Subhanallah. Sungguh suatu pengalaman yang belum pernah saya alami sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat perkataan seorang teman ketika menyesali tindakannya yang membuang-buang waktu ketika mendapati nilai ujiannya jelek semua. "Semua ini karena aku tidak mau memanfaatkan waktu yang ada selama kuliah", katanya. Dia memang terlihat lebih suka bersantai-santai daripada membaca buku dan materi kuliah. Semua dapat dipelajari satu-dua hari menjelang ujian, tukasnya meyakinkan ketika saya menegurnya. Tentu saja kata-katanya tidak terbukti. "Oh, andaikata saja waktu bisa berjalan mundur, tentu aku bisa belajar lebih banyak dan lulus ujian dengan nilai baik". Andaikata, memang sebuah kata yang mudah diucapkan, terutama ketika semua sudah terlanjur terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang sering tidak memanfaatkan waktu dengan baik, termasuk saya sendiri. Waktu diciptakan &lt;em&gt;fix&lt;/em&gt; 24 jam sehari, tetapi kita sering merasa kekurangan waktu, sedangkan di saat agak luang, waktu kita buang-buang. Tentu saja kita selalu merugi. Allah berfirman, "&lt;em&gt;Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menetapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran&lt;/em&gt;" (QS Al 'Ashr). Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk memanfaatkan waktu dengan baik, sabdanya, "&lt;em&gt;Carilah yang lima sebelum datang yang lima, yaitu manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu (dengan ibadah), gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu (dengan amal saleh), gunakanlah masa kayamu sebelum datang masa miskinmu (dengan sedekah), gunakanlah masa hidupmu sebelum datang masa matimu (mencari bekal untuk hidup setelah mati). gunakanlah masa senggangmu sebelum datang masa sempitmu.&lt;/em&gt;' (Al Hadits).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak mengalami waktu mundur saat itu, tetapi hanyalah jam yang berjalan mundur. Jam adalah kesepakatan manusia, sedangkan waktu adalah makhluk Allah yang kita tak kuasa mengendalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pesawat tiba di Hongkong dan berhenti untuk transit lagi. Ketika pesawat mendarat, jam kembali berjalan maju secara normal, 11, 12, 1, ... Kemudian yang terpikir oleh saya adalah: tadi saya sudah sholat subuh. Lantas, apakah saya mesti sholat subuh lagi ketika waktunya tiba? Suatu pertanyaan yang belum pernah sama sekali muncul di kepala saya, pun belum pernah mendengar di pengajian manapun. Segera otak bekerja, tadi ketika jam berbalik dari pukul 1 malam ke pukul 12, apakah hari berubah dari Selasa menjadi Senin? Ketika tiba di Hongkong, dan jam bergerak maju lagi melewati tengah malam, hari berganti menjadi Selasa. Jadi saya tiba di Hongkong hari Selasa? Ternyata jam di bandara Hongkong menunjukkan hari itu Rabu 30 Agustus 2000. Bagaimana mungkin? Ternyata dalam perjalanan dari Alaska ke Hongkong tadi, pesawat melampaui garis batas penanggalan di atas Samudera Pasifik, sehingga dilakukan koreksi tanggal dan mundur 1 hari. Kalau begitu subuh menjelang adalah subuh untuk hari yang berbeda dengan subuh yang saya alami tadi pagi (tadi pagi?, bukannya kemarin, tetapi kan sekarang lebih malam daripada tadi pagi? wah, ternyata membingungkan juga ya). Oleh karena itu saya segera sholat subuh lagi di Bandara Hongkong, sambil menunggu pesawat Garuda yang akan membawa saya ke Bandara Ngurah Rai di Pulau Bali. Selamat bertemu lagi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="COLOR: rgb(51,204,0)"&gt;{2000 @ canada}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-5445533687738443728?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/5445533687738443728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=5445533687738443728' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5445533687738443728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5445533687738443728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/09/subuh-2-kali.html' title='Subuh 2 Kali'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-2144851572837233438</id><published>2006-09-21T21:52:00.000+07:00</published><updated>2006-10-16T23:42:41.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Patung Raja</title><content type='html'>&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 282px; height: 203px;" src="http://www.bangkok-garden.com/nss-folder/pictures/main.jpg" /&gt;&lt;em&gt;You know&lt;/em&gt;, kebanyakan kita suka difoto, tak terkecuali dengan saya dan seorang teman. Pada kesempatan ke Bangkok untuk mengikuti sebuah &lt;em&gt;workshop&lt;/em&gt; di Chulalongkorn University (&lt;em&gt;I don't think I really needed that training. It was just a matter of a chance for me to go to Thailand&lt;/em&gt;), kami sempatkan untuk berfoto ria di sana-sini. Bangkok yang dikenal sebagai kota wisata, memiliki ratusan &lt;em&gt;temple&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;ting trecek&lt;/em&gt;, menurut istilah dalam bahasa Jawa, karena &lt;em&gt;saking&lt;/em&gt; banyaknya; seperti banyaknya musholla dan masjid di kota-kota di Indonesia. Seorang &lt;em&gt;tourist guide &lt;/em&gt;menawari kami untuk mengunjungi 3 &lt;em&gt;temple&lt;/em&gt; dalam satu rangkaian, di mana di dalamnya terdapat patung Buddha sedang duduk bersila, berdiri, dan tidur. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sorry, not this time&lt;/span&gt;, karena kami baru saja mengunjungi Wat Phra Kaeo (&lt;a href="http://thailandforvisitors.com/central/bangkok/ratanakosin/prakeo/green/index.html"&gt;Temple of the Emerald Buddha&lt;/a&gt;) dekat istana raja, di sana ada patung Buddha dengan pakaian yang berganti-ganti ketika musim berganti. Kami tentu saja mengambil foto banyak sekali dengan latar depan kami sendiri ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke foto-fotoan tadi, sepulang dari Chulalongkorn University, kami berjalan kaki ke hotel sembari melewati sebuah taman dekat pusat pertokoan Siam Square. Ketika berfoto di sana dengan latar belakang sebuah patung, orang-orang yang lalu lalang di situ melihat kami, berhenti menghadap kami, dan kemudian menangkupkan kedua belah telapak tangannya di depan dada dan menundukkan kepala - memberikan penghormatan. Kami, dengan wajah penuh keheranan, secara refleks membalas dengan menganggukkan kepala dan tersenyum - "sungguh ramah orang-orang Thailand ini", fikir kami. Setelah hal tersebut berlangsung beberapa kali, naluri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scientific&lt;/span&gt; muncul, dan kami pun mulai menyelidikinya - mengapa orang-orang itu berbuat seperti itu. Setelah kami perhatikan dengan seksama dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, ternyata kami berdiri di dekat patung Raja Chulalongkorn (&lt;a href="http://www.simply-thai.com/Thailand_History_Rama_V_and_the-Princess.htm"&gt;King Rama&lt;/a&gt;). Dan ternyata, orang-orang itu memberikan penghormatan pada patung raja, bukan kami, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;of course&lt;/span&gt; ;-) Orang Thailand sangat mencintai dan menghormati keluarga raja mereka. Menyadari hal itu, kami lalu dengan perlahan-lahan mundur agak menjauhi patung raja sekaligus mengubah posisi, karena sebelumnya kami berdiri membelakangi patung raja. Khawatirnya kami dianggap tidak menghormati raja mereka kan repot. Akhirnya kami lanjutkan foto-fotoan dengan latar belakang patung raja tetapi kali ini kami tidak membelakanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{2004 @ bangkok}&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-2144851572837233438?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/2144851572837233438/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=2144851572837233438' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/2144851572837233438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/2144851572837233438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/09/patung-raja.html' title='Patung Raja'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-4684283497499546850</id><published>2006-09-15T03:10:00.000+07:00</published><updated>2006-10-16T23:01:53.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Taksi Umum</title><content type='html'>&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" src="http://www.pl8s.com/taxi/NB.jpg" /&gt;Komunitas muslim di Fredericton bersifat sangat kekeluargaan, masing-masing akan dengan sigap membantu yang lain kalau memerlukan bantuan. Begitu juga dengan transportasi. Bagi kami yang tidak memiliki kendaraan pribadi dan terbiasa berjalan kaki dari apartemen ke kampus yang berjarak hanya ratusan meter, setiap menjelang sholat Jum'at berdiri di luar kampus Head Hall menunggu mobil teman-teman yang akan membawa kami menuju masjid yang berjarak kurang lebih 3 km ke arah Saint John River.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, saya mengikuti kuliah Predictive Control and Smart Sensor sampai selesai, sehingga terlambat ke luar kelas (biasanya saya keluar lebih awal). Menunggu di lobby Head Hall sendiri agak lama dan tetap saja tidak ada mobil yang biasa kami tumpangi lewat. Untuk berjalan menuju masjid tidak memungkinkan karena saat itu salju cukup deras menjatuhi bumi. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menelepon taksi. Ini kali pertama saya naik taksi di sini. Beberapa saat kemudian sebuah taksi menghampiri dan masuklah saya ke dalamnya. Ketika taksi berjalan lagi, saya agak heran, mengapa arah taksi tersebut kok bukannya menuju sungai, malahan menjauhinya. Tak berapa jauh, di sekitar kampus St Thomas University, taksi berhenti di depan salah satu apartemen. Yang mengagetkan saya adalah tiba-tiba masuklah 2 orang mahasiswa ke taksi yang sedang saya tumpangi. Mereka menyapa saya dengan ramah dan saya hanya membalas dengan "hi" seadanya. Taksi kemudian melaju lagi ke arah sungai dan mengantarkan saya ke masjid (Beberapa kali saya naik taksi setelah itu saya baru tahu kalau masjid kami yang di sebelah sungai Saint John itu dikenal sebagai Multicultural Center, di kalangan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;taxi driver&lt;/span&gt;. Mungkin karena mereka sering mengantarkan banyak penumpang dari berbagai bangsa ke tempat itu, sehingga mereka mengira di situ adalah Pusat Multibudaya. Belakangan kami selalu menggunakan istilah itu untuk mempermudah menjelaskan tujuan kepada sopir taksi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak saat itu, saya terbiasa berbagi tempat dengan penumpang taksi yang lain jika tujuannya sama atau berdekatan. Jadi saya bisa berhemat untuk uang transpor naik taksi? Oh, tentu saja tidak. Ini karena meskipun naik taksi yang sama, tetapi membayarnya sendiri-sendiri dan masing-masing membayar secara penuh. Misal, dari Regent Mall ke Magee House, ongkos taksinya adalah 4 CAD untuk taksi biasa dan 5 CAD untuk taksi yang lebih mewah (pengemudinya memakai dasi). Maka, jika saya berbagi taksi dengan 2 penumpang lain yang tidak bersama dengan saya, maka saya harus membayar penuh dan mereka juga harus membayar penuh. Kriteria yang digunakan adalah: jika naiknya atau turunnya tidak dari /ke tempat yang sama, maka harus membayar penuh. Tak mau kalah, jika naik taksi sendirian kemudian ada juga calon penumpang yang sedang menunggu taksi, maka tanyakan tujuannya padanya atau mereka. Jika tujuannya sama, maka kita pura-pura sudah saling kenal dan berangkat bersama, sehingga ongkos taksinya dapat dibagi ;-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{1998 @ fredericton}&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-4684283497499546850?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/4684283497499546850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=4684283497499546850' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/4684283497499546850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/4684283497499546850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/09/taksi-umum.html' title='Taksi Umum'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-4747849821668075194</id><published>2006-09-07T04:41:00.000+07:00</published><updated>2006-10-14T12:03:42.755+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Menyewa Kabel</title><content type='html'>&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" src="http://www.nearshoring.ca/supporting/pictures/NBmapsmall.jpg" /&gt;Saat kedatangan saya pertama kali di Kanada untuk menempuh S2, saya langsung tertipu. Sebelum berangkat, di Indonesia, melihat di peta, Kanada terletak di lintang sekian-sekian jadi udaranya dingin. Oleh karena itu, saya pakai jaket tebal sejak di pesawat dari Hongkong - Anchorage - Toronto - Fredericton. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;However&lt;/span&gt;, ketika keluar dari pesawat. Ternyata udara panas sekali, 33°C, lebih panas dari udara Jogja di bulan Agustus itu. Bulan Agustus? Ah, kenapa saya lupa? Bulan Agustus kan masih bagian dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;summer&lt;/span&gt; di negara ber 4 musim seperti Kanada. Lepas jaket deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dijemput oleh seorang teman dari BPPT dan tinggal di kostnya selama kurang lebih 3 hari, sampai tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jetlag&lt;/span&gt; lagi, tiba saatnya untuk pindah mencari apartemen sendiri. Teman saya tadi bercerita bahwa sudah ada teman lain dari Departemen Kehutanan yang akan menyelesaikan studi masternya dan akan segera pulang ke Indonesia, sehingga saya dapat menempati apartemennya. Sambil menuju apartemen tersebut (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Magee House&lt;/span&gt;, salah satu apartemen milik universitas untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;graduate student&lt;/span&gt;), saya bertanya: "berapa biaya per bulan yang harus saya bayar untuk menyewa apartemen tersebut?". Teman saya menjawab: "biasanya untuk kamar sekian CAD, sudah termasuk air, untuk telepon sekian CAD, internet sekian CAD, listrik sekian, lalu untuk menyewa kabel sekian". Sejurus saya terdiam keheranan lalu seperti biasa mengajukan ide yang cemerlang: "bagaimana kalau kabelnya beli sendiri saja, tidak usah menyewa?". Harapan untuk memperoleh pujian dari teman2 yang mendengar ide saya tadi berubah menjadi kebingungan ketika semua teman tertawa. Belakangan saya baru tahu kalau yang dimaksud dengan kabel adalah TV CABLE, bukan kabel listrik, jadi harus menyewa, tidak bisa membeli sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 204, 0);"&gt;{1998 @ fredericton}&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;see other &lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html"&gt;Culture Shocks&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-4747849821668075194?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/4747849821668075194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=4747849821668075194' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/4747849821668075194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/4747849821668075194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/09/menyewa-kabel.html' title='Menyewa Kabel'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7324539164873039006.post-5045704792833112544</id><published>2006-09-06T12:40:00.000+07:00</published><updated>2007-03-05T14:22:25.616+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culture shocks'/><title type='text'>Culture Shocks - Index</title><content type='html'>Halaman ini berisi &lt;em&gt;republish&lt;/em&gt; cerita tentang pengalaman saya ketika mengunjungi berbagai tempat, yang penuh dengan keunikan kejutan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/menyewa-kabel.html"&gt;Menyewa kabel&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/taksi-umum.html"&gt;Taksi umum&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/patung-raja.html"&gt;Patung raja&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/subuh-2-kali.html"&gt;Subuh 2 kali&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/09/random-checking.html"&gt;Random Checking&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/10/dwi-bahasa.html"&gt;Dwi Bahasa&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/10/disangka-orang-asing.html"&gt;Disangka Orang Asing&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/10/ramadhan-canada.html"&gt;Ramadhan@Canada&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/10/jangan-kemaruk.html"&gt;Jangan Kemaruk&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/11/patuh-pada-hukum.html"&gt;Patuh pada Hukum&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/11/hotel-mahal.html"&gt;Hotel Mahal&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/12/berlalu-lintas-dengan-baik.html"&gt;Berlalu-lintas dengan Baik&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2006/12/terima-kasih.html"&gt;Terima Kasih&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2007/01/jagal-sapi.html"&gt;Jagal Sapi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2007/01/salju-membeku.html"&gt;Salju Membeku&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2007/02/garage-sale.html"&gt;Garage Sale&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2007/02/ramayana.html"&gt;Ramayana&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2007/02/lion-dance.html"&gt;Lion Dance&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://balzach.blogspot.com/2007/03/pengumuman.html"&gt;Pengumuman&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Coming soon&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Awas: Diskriminasi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Takut Gemuk&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Makan?&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7324539164873039006-5045704792833112544?l=balzach.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://balzach.blogspot.com/feeds/5045704792833112544/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7324539164873039006&amp;postID=5045704792833112544' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5045704792833112544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7324539164873039006/posts/default/5045704792833112544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://balzach.blogspot.com/2006/09/culture-shocks.html' title='Culture Shocks - Index'/><author><name>balzach</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15473434191454414072</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_OdVNAZV52AI/R-4YyhUwgBI/AAAAAAAAAF0/9VaHSAax73I/S220/mikohelm.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
