Hari sebelumnya, dalam perjalanan dari Jakarta ke Hongkong, di pesawat, saya duduk bersama seorang pengusaha Indonesia yang memiliki usaha di Hongkong. Cerita punya cerita, ternyata beliau tinggal dekat dengan rumah saya di Pakualaman Yogyakarta. Most probably my parents may know him as well. Dia banyak bercerita mengenai kehidupan di Hongkong. Ketika pesawat mendarat di Hongkong International Airport (a.k.a. Chek Lap Kok Airport), kami berpisah setelah naik shuttle train berkecepatan sangat tinggi yang mengantarkan penumpang yang turun dari pesawat ke terminal penumpang dan sebaliknya. Sepeninggal beliau, di terminal bandara sendiri, saya celingukan mencari jemputan yang telah dijanjikan pihak hotel. Bertanya pada petugas bandara, kebanyakan tidak dapat berbahasa Inggris, kalaupun ada yang bisa, saya tidak dapat menangkap perkataannya dengan baik; mungkin karena menggunakan bahasa Honglish ;-). Melihat orang kebingungan, 2 orang polisi mendatangi saya dan meminta paspor saya sembari menanyakan tujuan saya. Tak memperhatikan jawaban saya, mereka lebih tertarik dengan apa yang tertulis di paspor dinas saya: "This passport is valid for all parts of the world except: Israel & Taiwan". "Why are you not allowed to go to Taiwan?", tanya salah satu dari mereka. Saya hanya menjawab kalau itu kebijakan pemerintah. "What kind of officer are you?", tanya mereka lagi. Saya menjelaskan bahwa saya dari departemen pendidikan. Pertanyaan yang sama saya peroleh ketika dicegat lagi oleh 2 polisi yang lain ketika hendak naik bus hotel. No, problem, hari itu saya habiskan untuk berjalan-jalan (benar-benar jalan kaki) di pusat kota Hongkong yang penuh dengan tulisan cina sehingga saya kebingungan.Sore itu, saya sudah berada di bandara HKIA lagi. Sembari menunggu check in, saya melihat-lihat berbagai pojok terminal penumpang, mencoba mencari keunikan yang ada di sini. Rupanya, tingkah saya menarik perhatian 2 orang polisi bandara lagi. Mereka datang dan meminta saya untuk menunjukkan paspor saya lagi. Again, saya musti menjelaskan apa maksud service passport saya tersebut. Di terminal itu, saya 2 kali lagi didatangi dan ditanyai oleh pasangan polisi yang selalu memberi hormat sebelum menyapa. Akhirnya datang juga saat check in. Saya pindah ke ruang tunggu Cathay Pacific untuk menanti saat boarding. Beberapa saat kemudian, saya antri untuk menuju lorong menuju pesawat. Penumpang sangat ramai hari itu, sehingga antrian agak lambat berjalan. Saya tengak-tengok lagi, dan, again!!!, pasangan polisi pria dan wanita mendatangi saya seraya memberi hormat. Saya langsung memberikan paspor yang sudah saya persiapkan- saya sudah tahu bakal kena lagi nih. Akhirnya saya tanyakan ke mereka mengapa memeriksa saya. "Just random checking sir", jawab mereka dengan lugas. Random checking apanya. Random kok kenanya saya terus ;-) Kalau pemenang sayembara yang dipilih secara random, saya tidak pernah dapat; eh giliran untuk diperiksa, kok saya kena terus ;-). Belakangan saya paham mengapa saya didatangi terus oleh para polisi bandara. Dari wajah saya, mungkin mereka mengira saya berasal China daratan, dan you know, orang Hongkong dan orang China daratan rupanya saling tidak menyukai satu sama lain.
{1998 @ hongkong}
see other Culture Shocks
Senin, 28 Agustus, perjalanan pulang dari Kanada ke Indonesia diperkirakan mencapai 2 hari (30 jam). Hal ini berbeda dengan perjalanan saya saat berangkat dari Indonesia ke Kanada yang mencapai lebih dari 40 jam. Namun, perjalanan pulang ditempuh tanpa menginap, sedangkan pada perjalanan berangkat saya sempat menginap di Hongkong dan Toronto, masing-masing semalam. Setelah berpisah dengan teman-teman yang mengantar di Bandara Fredericton dan harus mengatur ulang isi tas kabin karena
You know, kebanyakan kita suka difoto, tak terkecuali dengan saya dan seorang teman. Pada kesempatan ke Bangkok untuk mengikuti sebuah workshop di Chulalongkorn University (I don't think I really needed that training. It was just a matter of a chance for me to go to Thailand), kami sempatkan untuk berfoto ria di sana-sini. Bangkok yang dikenal sebagai kota wisata, memiliki ratusan temple, ting trecek, menurut istilah dalam bahasa Jawa, karena saking banyaknya; seperti banyaknya musholla dan masjid di kota-kota di Indonesia. Seorang tourist guide menawari kami untuk mengunjungi 3 temple dalam satu rangkaian, di mana di dalamnya terdapat patung Buddha sedang duduk bersila, berdiri, dan tidur.
Komunitas muslim di Fredericton bersifat sangat kekeluargaan, masing-masing akan dengan sigap membantu yang lain kalau memerlukan bantuan. Begitu juga dengan transportasi. Bagi kami yang tidak memiliki kendaraan pribadi dan terbiasa berjalan kaki dari apartemen ke kampus yang berjarak hanya ratusan meter, setiap menjelang sholat Jum'at berdiri di luar kampus Head Hall menunggu mobil teman-teman yang akan membawa kami menuju masjid yang berjarak kurang lebih 3 km ke arah Saint John River.
Saat kedatangan saya pertama kali di Kanada untuk menempuh S2, saya langsung tertipu. Sebelum berangkat, di Indonesia, melihat di peta, Kanada terletak di lintang sekian-sekian jadi udaranya dingin. Oleh karena itu, saya pakai jaket tebal sejak di pesawat dari Hongkong - Anchorage - Toronto - Fredericton. 

